Oleh: Agus Sudibyo | Juli 1, 2008

Yang Muda yang Membuktikan

Kompas, Jumat, 27 Juni 2008 | 02:29 WIB

Pengantar Redaksi:

Memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional, Desk Opini Harian ”Kompas” bekerja sama dengan Lingkar Muda Indonesia (LMI) menyelenggarakan diskusi panel bertajuk ”Republik Kaum Muda: Sinergi Kebangkitan Menuju Cita-Cita Republik”, 22 Mei 2008 di Bentara Budaya Jakarta, dengan pembicara Sandiaga S Uno (Ketua Umum HIPMI), Maria Ulfah Anshor (Anggota Komisi I DPR), Hetifah Syaifuddin Sumarto (tokoh LSM), Chandra Hamzah (Wakil Ketua KPK), dan Joko Widodo (Wali Kota Surakarta) dengan moderator Agus Sudibyo. Berikut laporan hasil diskusi, masing-masing di halaman ini dan halaman 57.

Oleh Agus Sudibyo

Setelah sekian lama hilang dari peredaran, mantan Menteri Penerangan Harmoko muncul lagi di hadapan publik beberapa saat lalu. Bung Harmoko atau Bung Har meluncurkan buku kesaksiannya tentang kejatuhan mantan Presiden Soeharto. Di negeri ini hampir tidak ada orang yang tidak tahu betapa lekatnya Bung Har dengan Soeharto hingga huru-hara politik 1998 merenggangkan keduanya.

Namun, apakah buku itu sekadar memoar? Hampir pasti tidak! Buku itu juga menandakan langkah Harmoko untuk kembali terjun ke dunia politik. Sebuah partai politik baru bahkan telah ia dirikan, Partai Kerakyatan Nasional.

Bukankah Bung Har sudah sepuh dan layaknya pensiun? Di sinilah persoalannya. Bung Har tidak sendirian. Di depan kita ada sederet generasi sepuh (the sunset generation) yang dengan percaya diri dan semangat luar biasa berupaya kembali mendominasi dunia politik. Jika menyimak bursa calon presiden pemilu 2009, kita akan menemukan deretan generasi sepuh itu. Dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berusia 58 tahun, Wakil Presiden Jusuf Kalla (65), mantan Presiden Megawati Soekarnoputri (60), mantan Presiden Abdurrahman Wahid (67), Akbar Tandjung (62), Wiranto (60), Sutiyoso (63), hingga Sri Sultan Hamengku Buwono X (61). Dapat dipastikan, nama-nama inilah yang meramaikan suksesi nasional tahun 2009.

Dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia memang lambat dalam regenerasi kepemimpinan. Generasi pertama pemimpin pascareformasi kini sudah berusia sekitar 60 hingga 70-an tahun, tetapi mereka masih mendominasi struktur politik dan pemerintahan di semua lini. Padahal, lebih dari cukup fakta yang menunjukkan mereka gagal dalam mengawal agenda-agenda reformasi. Di bawah kepemimpinan mereka, Indonesia justru kian terpuruk dalam krisis multidimensi hingga kini. Regenerasi kepemimpinan nasional menjadi tak terelakkan. Generasi tua, dengan kompleksitas masalah masa lalunya, tidak kompatibel bagi pelaksanaan agenda-agenda demokrasi. Krisis multidimensi yang dihadapi bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang inovatif, berkualitas, dan berorientasi ke depan. Hal yang sulit diharapkan dari generasi tua.

Persoalannya kemudian, apakah generasi muda siap memimpin? Apakah generasi muda mampu menciptakan perubahan? Ataukah jangan-jangan mereka sesungguhnya setali tiga uang dengan seniornya?

Seminar ”Republik Kaum Muda: Sinergi Kebangkitan Menuju Cita-Cita Republik” menggambarkan masalah dan fakta pada aras ini. Kecuali di politik nasional, regenerasi kepemimpinan itu sebenarnya telah terjadi. Cukup banyak bukti menunjukkan pemimpin muda dapat diandalkan. Kalaupun ada kendala, terutama bukan kendala kemampuan atau komitmen, tetapi kendala sistem dan struktur kekuasaan yang belum kondusif bagi ide perubahan yang mereka tawarkan.

Cukup signifikan

Merujuk pengalaman Anggota F-KB DPR Maria Ulfah, politisi muda di DPR jumlahnya cukup signifikan. Visi dan keberpihakan mereka juga cukup jelas. Namun, visi dan keberpihakan itu sulit diwujudkan karena terbentur sistem pengambilan keputusan, hierarki politik partai yang tak kondusif bagi semangat perubahan. Sebaik apa pun konsep atau solusi yang diajukan politisi muda, pada akhirnya suara mayoritas komisi yang menentukan atau garis kebijakan partai atau lobi politisi senior. Kreativitas tokoh-tokoh muda itu juga tidak optimal karena mereka sering dipaksa mengurusi hal-hal di luar kompetensinya, ditempatkan di komisi yang tidak mereka kuasai duduk persoalannya.

Kondisi yang berbeda tercipta di dunia bisnis. Seperti dikatakan Ketua HIPMI Sandiaga Uno, dunia bisnis lebih egaliter dan memberikan peluang sama besarnya kepada anak-anak muda. Di dunia bisnis pascakrisis 1998, justru terasa determinasi pengusaha-pengusaha muda. Dalam daftar 10 besar pengusaha tersukses (terkaya) di Indonesia, didominasi orang-orang muda. Pada level itu, ada nama Haritanoesoedibyo, Chairul Tandjung, Patrick Waluyo, dan Tom Lembong yang berusia 40-an. Nama-nama yang relatif tidak dikenal sebelum krisis karena publik hanya mengenal taipan, seperti Salim atau Eka Cipta Widjaja. Sandi menyebut ide-ide dan pendekatan segar sebagai keunggulan para pengusaha muda itu. Jika para seniornya berbisnis dengan modal kedekatan dengan penguasa, para pengusaha muda lebih mengandalkan SDM berkualitas dan orientasi pada meritokrasi.

Hal yang sama juga terjadi pada dunia pendidikan dan organisasi nonpemerintah (ornop). Di dunia pendidikan tinggi, muncul tokoh-tokoh muda yang menjabat pimpinan rektorat ataupun dekanat. Di dunia ornop, suasana egaliter sangat mendukung munculnya tokoh-tokoh muda.

Seperti dikatakan Hetifah Syaifuddin, mereka juga berhasil mengubah pendekatan dan mereposisi diri. Dari pendekatan konfrontatif menuju pendekatan kooperatif terhadap pemerintah. Dari posisi ”tukang kritik” menjadi ”mitra partisipatoris” pemerintah. Mereka tak canggung melakukan program pendampingan pemerintahan daerah, merancang program participatory planning, dan lain-lain.

Demikian pula yang terjadi pada aras pemberantasan korupsi. Menurut Chandra Hamzah, KPK saat ini adalah KPK-nya anak muda. Dari 500 staf KPK, mayoritas adalah anak-anak muda. Demikian juga dengan posisi-posisi kunci di lingkungan KPK. Unsur jaksa, polisi, dan anggota KPK sendiri banyak diisi generasi muda, dengan kecenderungan dan kegairahan yang khas anak muda: berorientasi ke depan, terbuka terhadap masukan, dan haus akan perubahan. ”Ini yang menjelaskan kemajuan kinerja KPK belakangan,” kata Chandra.

Relokasi sukarela

Tak kalah fenomenal kiprah Joko Widodo. Hanya 2,5 tahun menjadi Wali Kota Surakarta, Joko berhasil membuat perubahan signifikan dalam tata pemerintahan dan pelayanan publik di wilayahnya. Sebagai pengusaha, perhatian utama Joko adalah pembenahan birokrasi yang buruk dan sangat tidak efisien. Jangka waktu pengurusan izin usaha dipangkas dari 8 sampai 12 bulan menjadi enam hari, nyaris tanpa biaya sama sekali. Joko menerapkan one top service untuk perizinan usaha dan pelayanan publik yang lain. Sebuah terobosan fenomenal untuk konteks Indonesia bahwa pengurusan KTP di Surakarta hanya butuh waktu 1 jam, dengan biaya Rp 5.000.

Joko Widodo juga berhasil merelokasi ratusan pedagang kaki lima (PKL) secara sukarela dan gotong-royong, tanpa penggusuran, bahkan dengan arak-arakan yang meriah ke tempat baru yang benar-benar mereka hendaki. Tak pelak, ruang-ruang publik yang sebelumnya dipenuhi PKL berhasil direvitalisasi. Joko juga merevitalisasi pasar-pasar tradisional sehingga mampu bersaing dengan serbuan mal dan hypermarket. Patut digarisbawahi, Pemerintah Kota Surakarta menetapkan kebijakan zero grouth untuk PKL, hotel berbintang, dan pusat perbelanjaan.

Joko Widodo tidak sendirian di sini. Masih banyak pemimpin muda yang sukses menjalankan pemerintahan daerah, seperti Bupati Kebumen Rustriningsih dan Wali Kota Pekalongan dr HM Basyir Ahmad. Sungguh kontras membandingkan keberhasilan mereka dan cerita kegamangan atau kegagalan pemimpin generasi tua pada level nasional.

Sandiaga Uno, Chandra Hamzah, Maria Ulfah, Hetifah Syaifuddin, dan Joko Widodo membuktikan tokoh muda mampu menjalankan kepemimpinan dan layak mendapatkan kesempatan lebih besar. Tantangan mereka sekarang bukan sekadar merebut tampuk kepemimpinan, tetapi juga bagaimana mensinergikan potensi-potensi mereka dalam satu gerakan yang secara politik signifikan.

Bagaimana agar tokoh-tokoh muda itu tidak terkesan berjalan sendiri-sendiri pada bidang masing-masing? Seminar yang dilakukan LMI dan Kompas hanyalah titik awal menuju sinergi tersebut, terlebih menyambut 80 tahun Sumpah Pemuda, Oktober.

Agus Sudibyo Deputi Direktur Yayasan SET (Sains, Estetika, dan Teknologi) Jakarta


Responses

  1. Salam Hormat, Salam Senyum Kanggo Sedulur Kabeh
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Perkenalkan, Saya H.M.Jamil,SQ,MPd ingin meminta dukungan Saudara dalam pemilihan Caleg DPR RI PPP 2009 Dapil Kebumen, Banjarnegara & Purbalingga.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    Salam Hangat buat Keluarga Anda
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

    • Wa’alikum salam.
      Ok, Pak. Semoga sukses memperjuangkan amanah rakyat


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: