Oleh: Agus Sudibyo | Maret 10, 2008

Rancangan Revisi KUHP Dinilai Mengancam Kebebasan Berekspresi

 

(Koran Tempo, 24 Januari 2005).

Jakarta – Rancangan Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang sudah dikirim Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia ke Presiden dinilai mengancam kebebasan berekspresi. Jumlah pasal yang membatasi kebebasan pers dan berekspresi bertambah, hukuman yang diberikan pun lebih berat.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers, Misbahuddin Gasma, saat dihubungi Tempo kemarin mengatakan, ada beberapa hal yang membuat KUHP itu menjadi lebih buruk dibanding yang berlaku saat ini. “Saya menilai, Rancangan Revisi KUHP ini lebih kejam. Selain sanksi yang disediakan lebih banyak, ancaman hukuman yang disediakan lebih berat,” kata Misbahuddin.

Menurut Misbahuddin, setidaknya ada dua hal yang membuat RUU ini dikatakan lebih berbahaya. Pertama, pasal yang mengancam kebebasan pers dan kebebasan berekspresi lebih banyak. Dalam Rancangan Revisi KUHP ini setidaknya ada 48 pasal yang mengancam kebebasan pers. Di KUHP sebelumnya ada 32 pasal.

Pasal yang dinilainya mengancam kebebasan pers dan berekspresi itu antara lain pasal tindak pidana terhadap martabat presiden dan wakil presiden, pasal tindak pidana terhadap negara, kepala negara, dan perwakilan negara sahabat, tindak pidana terhadap ketertiban umum, tindak pidana terhadap kekuasaan umum dan lembaga negara, tindak pidana terhadap kesusilaan, dan tindak pidana penghinaan. Belum lagi soal tindak pidana terhadap ideologi negara, yang ancaman hukumannya paling lama 10 tahun.

Kedua, RUU KUHP ini menyediakan hukuman pencabutan profesi bagi yang melakukan pelanggaran. Ini tertuang dalam paragraf 12 tentang Pidana Tambahan. Dalam pasal 88 butir g disebutkan, hak-hak terpidana yang dapat dicabut adalah hak menjalankan profesi tertentu, termasuk profesi wartawan. “Ini berbahaya,” kata Misbahuddin.

Agus Sudibyo, Koordinator Lobi Koalisi Kebebasan Memperoleh Informasi, saat ditemui terpisah berpendapat serupa. “KUHP itu kan sebagai alat untuk membatasi kebebasan sipil. Revisi yang dilakukannya dan kini menjadi Rancangan Revisi KUHP itu justru semakin melengkapi alat negara untuk membatasi kebebasan berekspresi masyarakat sipil,” ujarnya.

Ini jelas tak sesuai dengan butir b dalam klausul “menimbang” Rancangan Revisi KUHP itu, yang menyatakan bahwa “materi hukum pidana nasional itu harus disesuaikan dengan politik hukum, keadaan dan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara bangsa Indonesia”.

Yang lainnya adalah pasal penghinaan, seperti tertuang dalam Pasal 511 RUU KUHP. Dia khawatir banyak kasus kebebasan berekspresi akan dibungkam dengan pasal pencemaran nama baik. Padahal pengertian tentang nama baik itu masih tak begitu jelas. Yang paling berpotensi untuk terjerat pasal ini adalah pers.

Rancangan Revisi KUHP ini juga mencoba masuk ke segala aspek kehidupan individu, termasuk wilayah privat. Salah satunya soal campur tangan negara untuk mengatur soal kumpul kebo dan semacamnya, yang tertuang dalam pasal 486. “Apakah perlu negara campur tangan sampai dalam soal itu?” ujarnya.

Karena itulah dia mendesak agar komunitas sipil seperti pegiat lembaga nonpemerintah, komunitas pers, dan akademisi mengkritik rancangan ini sebelum disahkan DPR. “Harus ada tekanan publik yang sangat kuat agar DPR bisa mendengarkan aspirasi masyarakat soal rancangan ini,” ujarnya.

Anggota Tim Penyusun Rancangan Revisi KUHP, Rudi Satriyo Mukantardjo, yang ditemui sebelumnya, mengakui banyak hal dalam rancangan revisi yang tak berbeda dengan KUHP saat ini. Namun, kata dia, KUHP ini memiliki banyak kelebihan. Selain akan menjadi satu-satunya buku pidana, KUHP ini menyediakan jenis hukuman yang berbeda dari KUHP sebelumnya, di antaranya adalah pidana kerja sosial.


Abdul Manan – Tempo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: