Oleh: Agus Sudibyo | Maret 12, 2008

Dramatisasi Asumsi Istighotsah: Istighotsah ditampilkan keras di televisi, sekalipun realitasnya penuh kesantunan

Oleh: Agus Sudibyo

SEPANJANG paruh kedua April 2001, wajah layar televisi Indonesia kian berwarna kekerasan. Setelah sebelumnya aroma darah meruap dalam sejumlah film seri, baik impor maupun produksi lokal, dan semuanya merupakan kisah fiktif, belakang hari aroma kekerasan itu justru berupa fakta. Peristiwa faktual nonfisik itu antara lain: tubuh yang kebal dari sabetan kelewang, badan nan tak hancur oleh lindasan truk, serta orang-orang yang tertawa bangga ketika sebuah mercon sebesar pohon kelapa meledak di tangannya tanpa sedikit pun cedera. Ada juga segerombolan anak muda bermuka beringas dan coreng-moreng di sekujur tubuhnya merayap, mengendap, dan berguling di semak-semak perbukitan -persis seperti pasukan tempur hendak menyergap musuh. Memang, semua adegan itu bukanlah hasil rekaan para awak redaksi televisi. Memang benar ada cukup banyak massa Nahdlatul Ulama (NU), terutama dari Jawa Timur, yang sedang murka terhadap para politisi Jakarta, yang berusaha menjatuhkan Presiden Abdurrahman Wahid, kiai panutan Nahdlatul Ulama. Ini juga bukanlah sebuah rekaan pemberitaan.

Kemarahan umat ini digambarkan pemberitaan televisi melakukan penggalangan dan bergabung, kemudian melatih diri secara intensif bak menyambut peperangan; dan Pasukan Berani Mati pun dibentuk. Targetnya jelas: pelaksanaan istighotsah kubro Nahdlatul Ulama, 29 April 2001, dan sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat, 30 April 2001. Istighotsah adalah acara do’a bersama yang di Indonesia lazim dilakukan kalangan Nahdlatul Ulama ketika pada suatu titik sebuah persoalan dianggap hanya bisa dipecahkan dengan pertolongan Tuhan.

Setidaknya, macam itulah yang diwartakan televisi. Namun, benarkah kekerasan itu kemudian terjadi di Jakarta? Kelompok masyarakat yang menamakan diri “warga Betawi” atau “tuan rumah” yang katanya bakal menerima tamunya, para pelaku istighotsah, dengan baik asal tidak ada kekerasan, semuanya menyuratkan makna: bakal terjadi kekerasan dan bentrokan gara-gara berdatangannya kaum nahdliyin yang hendak ber-istighotsah itu.

Ternyata, pada saatnya tiba, Minggu 29 April 2001, massa pro-Gus Dur itu justru menunjukkan sikap tertib, santun, dan bisa dikatakan minim ekspresi kekerasan. Di luar prediksi, istighotsah di Lapangan Parkir Timur Senayan itu berlangsung damai dan mulus; begitu juga dengan sidang paripurna parlemen. “Bahkan kemarin mungkin malah menjadi hari yang paling aman dan nyaman di Jakarta sejak tahun 2001 ini,” tulis editorial harian Media Indonesia.

Pertanyaannya: apakah perkembangan terakhir perilaku aman damai massa itu juga mendapat perhatian televisi, medium paling berpengaruh secara luas di Indonesia, setelah sebelumnya televisi ikut menggambarkan kemungkinan Jakarta suram karena aroma kekerasan itu? Apakah media secara proporsional juga menampilkan cerita tentang sukses penyelenggaraan istighotsah? Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) secara kontinyu memberitakan perkembangan massa pendukung Gus Dur. Kedatangan rombongan peserta istighotsah dari Jawa Timur di Stasiun Senen, Jakarta, diberitakan berjalan tertib, tanpa insiden. RCTI sempat mewawancarai kepala stasiun kereta api Senen, Besar Susmiarso. “Kami melihat mereka itu rombongan yang baik, rombongan yang terdaftar. Tidak ada masalah, karcis telah dibayar, ada ketua rombongan, jumlah rombongan juga telah ditentukan,” kata Susmiarso. Sweeping aparat keamanan tidak menemukan senjata tajam pada diri peserta istighotsah.

Dalam tayangan Seputar Indonesia, dua hari sebelum istighotsah, ada sebuah wawancara yang tampak sudah sejak awal dibayang-bayangi suatu asumsi. Ketika mewawancarai Syifaul Zaman, peserta istighotsah asal Pacitan, Jawa Timur, seorang reporter RCTI bertanya, apakah untuk datang ke Jakarta, peserta tersebut harus menjual kambing dan sapi? Apa relevansinya pertanyaan ini? Secara teknis, pertanyaan ini sifatnya tertutup, asumsinya diperlihatkan dengan telanjang. Apakah ini bukan pertanyaan yang stereotipis, yang menggeneralisasi warga Nahdlatul Ulama sebagai orang desa yang miskin, hingga untuk pergi ke Jakarta merupakan hal yang sangat memberatkan?

Stasiun televisi swasta pertama di Indonesia ini memberikan porsi besar pada pemberitaan tentang berbagai dampak rencana istighotsah. Karena itu, pemberitaannya antara lain juga menyoroti arus lalu lintas di pintu tol Cikampek, Jagorawi, dan Ciawi -yang ternyata tidak banyak mengalami perubahan, selain tingkat hunian hotel di kawasan Puncak, Jawa Barat, yang diperkirakan menjadi pengungsian warga Jakarta yang khawatir bakal terjadi kerusuhan, ternyata juga tak mengalami lonjakan berarti. Stasiun ini juga mengabarkan reaksi beberapa organisasi masyarakat terhadap rencana istighotsah. Ada Angkatan Muda Ka’bah yang melakukan konsolidasi kekuatan, ada juga Forum Silaturahmi Partai-Partai Islam yang mengimbau agar kelompok-kelompok Islam tidak memberi respon berlebihan terhadap istighotsah, serta Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia yang tidak akan menurunkan massa. Pemuda Bulan Bintang, Pemuda Muhammadiyah, dan Forum Pemuda Peduli Bangsa juga membuat pernyataan resmi menyikapi istighotsah dan sidang paripurna parlemen.

Di pengujung Seputar Indonesia RCTI melansir pernyataan resmi ketua Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi tentang pembubaran Pasukan Berani Mati, yang diperkuat pernyataan panglima Pasukan Berani Mati Nuril Arifin. Jika berkaca pada pemberitaan yang begitu gencar perihal Pasukan Berani Mati pada menjelang istighotsah sampai menebarkan rasa cemas, mestinya pembubaran Pasukan Berani Mati ini mempunyai nilai berita tinggi. Namun RCTI menempatkan peristiwa ini pada bagian akhir berita-berita tentang istighotsah. Headline Seputar Indonesia, sehari menjelang istighotsah, malah memilih berbagai pesan Gus Dur dalam pidatonya di hadapan khalayak istighotsah.

Copyright © 2001, PANTAU

Agus Sudibyo, analis media menulis buku Citra Bung Karno: Analisis Berita Pers Orde Baru dan ikut menulis buku Kabar-Kabar Kebencian: Prasangka Agama di Media Massa (bersama Ibnu Hamad dan Muhammad Qodari).

http://www.pantau.or.id/txt/14/13.html

Tahun II No 014 – Juni 2001


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: