Oleh: Agus Sudibyo | Maret 12, 2008

Lubang Masalah Regulasi Kampanye

Oleh Agus Sudibyo *

Setelah melalui proses yang melelahkan dan penuh kontroversi, Komisi Pemilihan Umum (KPU) akhirnya mengumumkan dua pasangan capres-cawapres yang berhak maju ke pilpres putaran kedua. Dapat dipastikan bahwa pasangan SBY-Jusuf Kalla dan Megawati-Hasyim Muzadi memperoleh suara terbanyak pada pilpres putaran pertama.

Salah satu masalah yang menarik untuk diamati adalah bentuk-bentuk komunikasi politik seperti apakah yang akan dilakukan kedua pasangan capres-cawapres untuk menggalang dukungan publik. Jeda waktu antara pengumuman hasil akhir pilpres putaran pertama dan pelaksanaan pilpres putaran kedua yang relatif panjang akan dioptimalkan kedua pasangan capres-cawapres untuk menggalang dukungan publik.

KPU memegang otoritas tertinggi di bawah UU untuk menentukan bentuk-bentuk kampanye yang perlu diberlakukan bagi kedua pasangan capres-cawapres. Sejauh ini, KPU belum mengumumkan regulasi tentang kampanye untuk pilpres putaran kedua. Karena itu, yang bisa dipakai sebagai acuan adalah Keputusan KPU No. 35/2004.

Ada dua hal yang perlu disoroti dalam keputusan KPU itu. Pertama, berkaitan dengan pasal 1 ayat 9 yang berbunyi: “kampanye pemilihan umum presiden dan wakil presiden, selanjutnya disebut kampanye, adalah suatu kegiatan yang dilakukan pasangan calon dan atau tim kampanye/juru kampanye untuk meyakinkan para pemilih dalam rangka mendapatkan dukungan sebesar-besarnya dengan menawarkan visi, misi, dan program pasangan calon secara lisan atau tertulis kepada masyarakat…”

Pertanyaannya, bagaimana jika kampanye dilakukan secara tidak langsung oleh pihak-pihak tertentu di luar tim kampanye capres? Bagaimana jika di televisi bermunculan iklan-iklan yang mendukung salah satu kandidat, tapi yang memasang iklan tersebut adalah pihak lain di luar tim kampanye? Di sinilah lubang besar dalam aturan main kampanye yang ditetapkan KPU.

Sebagai sebuah regulasi, ketentuan tersebut sangat rentan untuk dilanggar. Membuat iklan kampanye yang mendukung capres tertentu tanpa memperlihatkan nama atau gambar capres tersebut bukan pekerjaan sulit. Memasang iklan yang secara langsung atau tak langsung mendukung capres/cawapres tertentu dengan menggunakan nama pihak lain sebagai pemesan juga bukan sesuatu yang baru.

Dengan kata lain, ketentuan KPU di atas justru tidak kondusif bagi upaya-upaya untuk meminimalisasi praktik money politics, serta penggunaan dana kampanye secara serampangan dan tidak transparan. Selama ini, kalangan pemantau pemilu mengalami kesulitan untuk melacak dari mana asal dana kampanye masing-masing capres. Beban semakin bertambah karena semakin sulit pula melacak bagaimana dana itu digunakan. Termasuk, lahirnya regulasi seperti di atas membuka munculnya kampanye-kampanye terselubung.

Penyebutan subjek penyelenggara kampanye sebatas pasangan calon dan tim kampanye akan membatasi kontrol terhadap pihak lain di luar pasangan calon atau tim kampanye yang dapat melakukan kampanye atas nama pasangan calon.

Penghapusan subjek penyelenggara kampanye memungkinkan kontrol yang lebih besar terhadap semua kegiatan kampanye yang dilakukan untuk dan atas nama pasangan calon. Meski, hal itu tidak diselengggarakan pasangan calon atau tim kampanye.

***

Di sisi lain, KPU sebagaimana diberitakan di media massa (29 Juli 2004) berencana membatasi kampanye capres/cawapres pada pilpres putaran kedua hanya 3 hari dengan nama kegiatan penajaman visi, misi dan program capres/cawapres. Pertanyaannya adalah apakah dalam pelaksanaannya regulasi itu cukup realistis?

Untuk bentuk-bentuk kampanye yang bersifat langsung dan pengerahan massa, ketentuan KPU tersebut mungkin masih realistis untuk dilaksanakan. Namun, untuk bentuk-bentuk kampanye melalui media (elektronik dan cetak) agak sulit dibayangkan bagaimana pelaksanaannya.

Pemilihan presiden secara langsung, sebagian besar adalah soal citra dan preferensi publik. Tantangan terbesar bagi para kandidat adalah bagaimana secara signifikan mengatrol popularitas diri menjelang pemilihan presiden berlangsung. Dari sisi media, hal itu sangat problematis. Tak pelak, upaya-upaya untuk menggunakan media sebagai alat propaganda dan pencitraan diri akan jauh meningkat. Pasangan capres-cawapres yang tidak menyadari pentingnya media meyakinkan stasiun televisi dan media cetak untuk memberikan kesempatan lebih banyak kepada kubunya.

Rencana KPU itu membuka kemungkinan terjadinya “kampanye di luar jadwal” ,”curi start kampanye,” terutama melalui media penyiaran. Praktik-praktik semacam itu sulit ditindak. Sebab, pelakunya bisa berlindung di balik Keputusan KPU No. 35/2004 di atas. Yang isinya, suatu kegiatan bisa disebut kampanye bila dilakukan capres/cawapres dan tim kampanyenya, serta dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan.

***
Persoalan yang dihadapi KPU dalam hal ini adalah membuat regulasi yang realistis untuk dilaksanakan. Jika peraturan dibuat hanya untuk dilanggar, hal tersebut akan menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum. Hal itu juga akan menjadi preseden buruk bagi KPU. Wibawa KPU sebagai lembaga regulator tentu akan dipertanyakan jika regulasi yang dilahirkannya terbukti tidak efektif: terjadi banyak pelanggaran, sedangkan kapasitas KPU untuk menegakkan hukum sangat terbatas.

KPU juga perlu meminimalisasi kampanye berisiko tinggi secara sosial dan politik. Bagaimana mengurangi bentuk-bentuk pengerahan massa dalam skala besar atau konvoi dan arak-arakan yang rawan gesekan antarkelompok massa? Salah satu alternatifnya adalah memfokuskan kegiatan kampanye melalui media. Dari sisi penggunaan dana dan kontrol atas isi kampanye, kampanye melalui media lebih mudah dikontrol dan dievaluasi.

Agus Sudibyo, peneliti media bekerja untuk ISAI Jakarta.

Jawa Pos, Rabu, 04 Agt 2004

Iklan

Responses

  1. pusing???
    aku lagi pusing cari tugas. jadi numpang komen aja sih
    hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: