Oleh: Agus Sudibyo | Maret 25, 2008

KRISIS INFORMASI PUBLIK

Oleh : Agus Sudibyo

Seandainya saja terjadi transparansi atas kondisi pesawat komersial domestik pada umumnya, frekuensi kecelakaan pesawat komersial akan bisa direduksi karena banyak pesawat dinyatakan tidak layak beroperasi. Andai saja awak Kapal Senopati Nusantara tidak nekad mengangkut penumpang melebihi kapasitas, kecelakaan mungkin juga bisa dihindari, atau setidak-tidaknya jumlah korban bisa ditekan. Andai saja kondisi transportasi kereta api diumumkan secara berkala, masyarakat akan lebih berhati-hati dalam memilih moda transportasi ini, bukan hanya karena tarifnya yang terjangkau.

Namun justru di sini letak persoalannya : keterbukaan informasi menjadi salah-satu aspek yang paling dinafikan dalam manajemen transportasi kita. Sejauh ini belum tersedia mekanisme yang secara efektif memfasilitasi masyarakat untuk mendapatkan informasi-informasi tentang sarana transportasi publik, serta yang dapat memaksa pejabat dan instansi terkait untuk menyediakan informasi tersebut secara berkala dan lengkap. Kewajiban untuk memberikan layanan informasi dan data belum menjadi bagian integral dari kultur dan mekanisme kerja institusi-institusi yang menggerakkan transportasi publik. Sebagai contoh, kita bisa menyaksikan betapa tidak proporsionalnya reaksi  Direksi Angkasa Pura tatkala kelompok karyawan berusaha membeberkan apa yang terjadi di perusahaan tersebut : peralatan penerbangan yang ala kadarnya, pengamanan bandara yang tidak standard, SDM yang jauh dari memadahi, dan seterusnya.

*    *    *

Dalam konteks ini, rentetan kecelakaan sarana transportasi publik yang terus terjadi belakangan bukan hanya cermin buruknya manajemen transportasi nasional,  tetapi juga indikasi buruknya manajemen informasi publik secara lebih luas. Kita sedangkan dihadapkan pada krisis informasi publik yang ditandai oleh tiga hal. Pertama, sikap anggap remeh terhadap pentingnya ketersediaan informasi yang valid dan relevans tentang fasilitas-fasilitas publik, khususnya yang mengaplikasikan teknologi tinggi sehingga kurang dipahami khalayak awam.

Karena secara langsung menentukan keselamatan jiwa banyak orang, kedudukan informasi sangat signifikans di sini. Dapat dibayangkan, sungguh beresiko jika masyarakat memilih transportasi udara hanya karena pertimbangan menghemat waktu, tanpa memperhitungkan benar kelayakan dan keamanan pesawat yang digunakan. Sama beresikonya jika masyarakat memilih kapal laut karena tarif yang murah, tanpa mengetahui bagaimana ramalan cuaca hari itu, berapa usia kapal, berapa kapasitas maksimumnya, dan seterusnya.

Namun sikap abai terhadap ketersediaan informasi tidak hanya menjangkiti perusahaan jasa transportasi dan institusi pemerintah, tetapi juga pengguna jasa transportasi sendiri. Masyarakat kita umumnya bersikap masa-bodoh dan tidak kritis terhadap kondisi sarana-sarana transportasi publik, dan tak mau ambil pusing atas ketidaknyamanan dan kejanggalan yang mereka temukan pada sarana transportasi itu.

Kedua, prinsip keterbukaan informasi, sebagai bagian penting dari prinsip pemerintahan yang demokratis, menegaskan publik berhak tahu atas kinerja badan-badan publik dalam menjalankan fungsi pemerintahan. Berkaitan dengan kecelakaan pesawat komersial, publik berhak tahu bagaimana standard pengawasan yang diterapkan instansi terkait. Berkaitan dengan problem banjir, publik berhak tahu  mengapa pembangunan Banjir Kanal Timur tak kunjung selesai ? Berkaitan dengan kemacetan di Jakarta, publik berhak mendapatkan penjelasan mengapa proyek pembangunan jalan umum tersendat-sendat, sementara pembangunan mall-mall begitu bebas hambatan ?

Persoalannya adalah, prinsip keterbukaan informasi itu sejauh ini sulit ditegakkan karena kita belum memiliki perangkat hukum yang benar-benar mewajibkan badan-badan publik untuk menyediakan informasi untuk masyarakat. Meskipun kecelakaan transportasi publik berskala besar terus terjadi, tetap saja tidak ada kekuatan yang secara efektif dapat memaksa perusahaan jasa angkutan umum (swasta atau BUMN)  untuk secara transparans dan reguler menginformasikan kepada publik : apakah teknologi yang mereka gunakan cukup aman, apakah teknologi itu dirawat dengan baik, dan apa tindakan-tindakan antisipasi  untuk menghindari terjadinya kecelakaan. 

*    *    *

Ketiga, Keterbukaan informasi mungkin justru kondisi yang kurang diharapkan oleh  beberapa pihak. Jika keterbukaan informasi secara konsekuen dijalankan, akan ada sekian pesawat terbang, kapal laut dan kereta api yang dinyatakan tidak layak operasi. Jika satu pesawat saja tidak diizinkan beroperasi, berapa kerugian yang harus ditanggung perusahaan jasa transportasi ? Jika standard keamanan dijalankan secara ketat, harus ada alokasi biaya operasional yang lebih besar untuk maintenance dan lan-lain. Pendek kata, keterbukaan informasi menimbulkan konsekuensi yang serius bagi bisnis transportasi.

Jika keterbukaan informasi menuntut berbagai konsekuensi, maka sebaliknya ketertutupan informasi adalah kondisi yang memungkinkan “semua bisa diatur”. Sarana transportasi yang berstatus tidak layak bisa saja secara patgulipat dinyatakan layak operasi. Standard keselamatan penumpang bisa saja dinegosiasikan dengan kepentingan efisiensi biaya operasional, maksimalisasi keuntungan, pungutan liar, dan seterusnya. Pada akhirnya, ketertutupan informasi tampaknya kondisi yang favourable bagi  pihak-pihak yang terbiasa memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi, suka mengambil jalan pintas demi efisiensi, dengan menomorduakan kepentingan publik.

*     *     *

Agus Sudibyo, Deputi Direktur Yayasan SET Jakarta, Koordinator Loby Koalisi Untuk Kebebasan Informasi

  

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: