Oleh: Agus Sudibyo | Maret 26, 2008

Gus Dur Sebagai Komoditas Media

 

Oleh : Agus Sudibyo

“…Gus Dur tampaknya sadar bahwa kekuatan politik tak dapat dilepaskan dari uang, maka ia pun menempatkan orang-orang kepercayaannya di wilayah-wilayah yang banyak berurusan dengan uang…..Ia ingin mencintai demokrasi, tapi ia sendiri telah menempuh jalan yang sering tidak demokratis. Ia membenci KKN dalam ucapan-ucapannya, tapi ia melanggengkan KKN dalam pemerintahannya. Ia ingin menegakkan hukum, tapi ia sendiri juga sering melabrak hukum.” (Detak, 2-8 Mei 2000).

Demikianlah salah satu gambaran bagaimana media massa memberitakan Gus Dur belakangan ini. Isu-isu KKN di sekeliling Gus Dur dan kinerja Gus Dur sebagai kepala negara mendapatkan sorotan tajam dari kalangan media. Media massa menyajikan laporan-laporan tajam dan kritis tentang kebijakan-kebijakan Gus Dur berkaitan dengan pergantian kabinet, usulan pencabutan Tap MPRS No. 25/1965, kunjungan Gus Dur ke luar negeri serta dugaan penempatan orang-orang dekat Gus Dur ke berbagai posisi yang “menguntungkan”.

Persoalannya kemudian adalah yang banyak ditampilkan media bukanlah deskripsi tentang realitas-realitas di sekeliling Gus Dur. Media lebih cenderung menampilkan tuduhan dan sinyalemen berdasarkan keterangan dari berbagai sumber atau analisis awak media bersangkutan. Laporan-laporan media tentang dugaan KKN di sekitar Gus Dur bukan hanya lugas dan kritis, namun juga sangat tendensius dan “menghakimi”. Hal ini terlihat dari judul berita yang dipilih seperti : “Satu Biliun di Tangan Gus Dur”, “Jaringan Orang Dekat dan Uang”, “Babak Baru KKN Gus Dur”, “Kemungkinan SI Buat Gus Dur : Pejabat KKN Teriak KKN”, “Rupiah BT Sama Kabinet Gus Dur” dan lain-lain.

Tidak semua media memunculkan berita-berita yang tendensius dan menuduh terhadap Gus Dur. Berita-berita yang demikian ini banyak muncul dalam media majalah dan tabloit. Meskipun demikian, tetap sangat menarik untuk memahami bagaimana sebenarnya hubungan antara Gus Dur dengan pers, serta kepentingan-kepentingan apakah yang mendasari hubungan antara keduanya.

Hubungan Mesra Antara Pers dan Gus Dur

Dapat dikatakan bahwa selama Orde Baru telah tercipta hubungan yang mesra antara kalangan pers dan Gus Dur. The name makes news, barangkali inilah perspektif yang digunakan pers dalam menghadapi Gus Dur. Sebagai tokoh yang multidimensi, seorang ulama sekaligus Ketua Umum PBNU, seorang intelektual Islam dan budayawan keberadaan Gus Dur selalu menjadi perhatian pers ketika itu. Apalagi Gus Dur juga dikenal sebagai tokoh demokrasi yang sangat kritis terhadap kekuasaan, menaruh perhatian terhadap berbagai persoalan aktual dan gemar berpolemik. Praktis Gus Dur adalah seorang news-maker yang sangat digandrungi insan pers.

Hubungan mesra itu juga berkaitan dengan persamaan nasib dan kepentingan di antara kedua belah pihak. Gus Dur dan pers sama-sama berada pada posisi yang vis-à-vis dengan rejim Orde Baru yang otoriter dan menindas. Pers adalah salah satu kelompok sosial yang selalu menjadi sasaran tembak praktek-praktek represi rejim Orde Baru. Demikian pula dengan Gus Dur, sikapnya yang sangat kritis terhadap pemerintah membuatnya banyak mendapat hambatan, baik dalam posisinya sebagai Ketua PBNU maupun sebagai tokoh politik.

Pers berusaha menjalankan fungsi kritik terhadap berbagai realitas dalam praktek-praktak berbangsa dan bernegara yang penuh dengan penyimpangan. Demikian juga dengan yang dilakukan Gus Dur. Dalam konteks inilah, kritik-kritik pedas Gus Dur terhadap rejim Soeharto tak pernah lepas dari perhatian pers. Pers senantiasa memberi nilai berita yang tinggi terhadap pernyataan-pernyataan Gus Dur. Lontaran-lontaran pedas Gus Dur tentang berbagai realitas birokrasi dan politik seakan membangkitkan rasa percaya diri kalangan pers dalam menjalankan fungsi wacth-dog.

Dengan kata lain, secara langsung maupun tidak langsung pers sebenarnya telah menjadikan Gus Dur sebagai simbol perlawanan terhadap rejim Soeharto. Sebaliknya, Gus Dur secara sadar juga memanfaatkan pers sebagai wahana untuk mensosialisasikan gagasan-gagasannya tentang demokrasi, civil-society, hubungan antara negara dan agama, dan lain-lain.

Namun tak bisa dipungkiri bahwa kepentingan pers terhadap Gus Dur bukan sekedar dalam konteks kritik terhadap kekuasaan. Kepentingan pers terhadap Gus Dur saat itu juga mensiratkan kegandrungan pers untuk “bermain-main” dengan entitas konflik dan sensasi. Artinya, pers dekat dengan Gus Dur juga karena sang tokoh ini kontroversial dan suka memicu polemik. Daya pikat Gus Dur di mata pers adalah karena Gus Dur selalu melontarkan pernyataan atau tuduhan-tuduhan yang menggemparkan, serta kaya akan “banyolan-banyolan” politik yang segar. Apa yang diutarakan Gus Dur hampir selalu melahirkan sensasi dan menimbulkan kegaduhan di tingkat nasional.

Eskalasi Kritisisme Pers Terhadap Gus Dur

Hubungan mesra antara Pers dan Gus Dur tampaknya berakhir belakangan ini. Walaupun tidak seluruhnya, banyak media menjadi sedemikian kritis dan “oposan” terhadap Gus Dur. Tak henti-hentinya mereka menyudutkan Gus Dur dengan menampilkan analisis-analisis tentang ketidakberesan pemerintahan dan gaya kepemimpinan Gus Dur. Pemberitaan mereka tentang dugaan-dugaan KKN di sekeliling Gus Dur sangat unfavourable dan ilegitimate terhadap sang Presiden.

Seperti yang telah disinggung di atas, tidak semua berita-berita tentang Gus Dur disusun berdasarkan fakta-fakta yang aktual. Tuduhan-tuduhan media terhadap Gus Dur bahkan banyak dibangun berdasarkan komentar-komentar sumber berita. Persoalannya kemudian adalah tidak semua sumber berita yang digunakan berkompetens untuk mengomentari masalah yang sedang dibicarakan. Dengan kata lain, pemberitaan pers tentang Gus Dur banyak bertumpu pada fakta psikologis daripada fakta sosiologis. Hal ini tentu saja mengurangi bobot analisis atau argumentasi yang telah disajikan untuk memperkuat tuduhan terhadap Gus Dur.

Dari laporan yang disajikan, tampaklah bahwa media belum melakukan investigasi ke lapangan untuk membuktikan benar-tidaknya tuduhan-tuduhan terhadap Gus Dur. Akibatnya, awak media tidak banyak mendapatkan informasi-informasi faktual, membuat laporan hanya berdasarkan keterangan sumber-sumber tak langsung, serta tidak mengecek ulang pernyataan sumber yang mereka kutip.

Tidak tersedianya informasi faktual yang memadahi untuk menyusun laporan tentang Gus Dur, tampaknya juga menyebabkan awak media cenderung menonjolkan opininya sendiri dalam laporan yang mereka buat. Yang terjadi kemudian adalah awak media bukan sekedar mendeskripsikan fakta, namun juga terjebak untuk mengomentari, memberikan evaluasi bahkan “menghakimi” Gus Dur dan orang-orang dekatnya.

Pada titik ini, perlu dipertanyakan sejauhmana kaedah-kaedah jurnalistik telah ditaati para awak media tersebut. Mengutip pernyataan wartawan senior, Saur Hutabarat, kerja insan pers adalah mendeskripsikan fakta (to descript), dan bukannya menerangkan (to explain) atau lebih ekstrem lagi menafsirkan fakta. Dengan menggunakan perspektif ini, tugas pers sebenarnya memaparkan fakta. Namun yang terjadi dalam pemberitaan tentang Gus Dur belakangan adalah awak beberapa media telah memberikan penilaian, evaluasi dan judgement atas kasus dan tokoh yang sedang dibicarakan.

Di sisi lain, dalam berita-berita tentang Gus Dur juga ditemukan kecenderungan awak media untuk menggunakan istilah-istilah yang bermakna konotatif, hiperbola, metafora, disfemisme dan label-label yang tendensius. Sebuah berita yang mengandung hiperbola atau disfemisme, sudah barang tentu sulit untuk dikategorikan sebagai berita yang akurat. Sebab berita tersebut mengandung dramatisasi, di mana fakta tidak ditampilkan sebagaimana adanya, namun dibumbui, dilebih-lebihkan.

Gaya bahasa yang demikian ini tidak seharusnya digunakan dalam konteks kerja jurnalistik. Gaya bahasa tersebut cenderung menfasilitasi awak media untuk memunculkan tuduhan atau prasangka. Pada titik ini pula terlihat problem mendasar yang lain dalam praktek jurnalistik kita, yaitu ketidakmampuan awak media melakukan depersonalisasi ketika meliput dan menyiarkan fakta. Kegagalan depersonalisasi ini membuat awak media tidak dapat mengendapkan luapan emosi dan sentimen pribadi atau kelompoknya ketika mengkonstruksi berita-berita tentang pemerintahan Gus Dur. Akibatnya, awak media tidak dapat bersikap netral dan cenderung mencurigai atau bersikap unfavourable terhadap pihak-pihak tertentu.

Kegandrungan Terhadap Sensasi dan Konflik

Pada akhirnya, terlihat bahwa media belum banyak berbuat untuk mengungkapkan kebenaran tuduhan dan anggapan-anggapan miring tentang Gus Dur. Terlepas dari benar-tidaknya tuduhan-tuduhan tersebut, kalangan media yang melontarkan tuduhan belum melakukan investigasi untuk mengumpulkan bukti-bukti. Sejauh ini, dapat dikatakan bahwa tuduhan-tuduhan itu lebih banyak dibangun berdasarkan asumsi atau “prasangka”.

Dalam konteks ini, terlihat pula bahwa kepedulian atau kepentingan pers terhadap Gus Dur ternyata belum beranjak dari kepentingan untuk menarik perhatian pembaca dengan menyuguhkan hal-hal yang berbau sensasi dan konflik. Kegandrungan media untuk senantiasa memberitakan Gus Dur meneguhkan asumsi bahwa keterlibatan media dalam sebuah konflik menjadi suatu keniscayaan jurnalistik. Bagi insan media, konflik ternyata tetap menjadi oase yang tak pernah kering di padang pasir. Meminjam kata-kata Georgette Wang, antagonisme dan konflik adalah komponen penting dalam proses produksi berita. Daya pikat konflik terhadap ranah psikologis khalayak pembaca sangat besar, sehingga konflik selalu ditempatkan sebagai nilai berita yang penting.

Konflik, antagonisme dan sensasi adalah alasan utama kalangan pers untuk memberitakan Gus Dur. Gus Dur telah identik dengan “kegaduhan” politik dan polemik yang semarak. Kedudukan sebagai kepala negara, tak mengurangi produktivitas Gus Dur dalam melontarkan gagasan, tuduhan dan analisis yang “ganjil” dan mengejutkan. Yang tak kalah penting, Gus Dur juga tidak mengurangi kegemarannya untuk menentang arus, berkasak-kusuk dan melontarkan banyolan-banyolan politik yang segar.

Media-media yang memunculkan tuduhan-tuduhan terhadap Gus Dur tidak begitu peduli terhadap akurasi tuduhan tersebut. Mereka juga tidak begitu memperhatikan apakah yang dikatakan oleh Gus Dur itu serius atau berseloroh, substansial dan parsial, berpengaruh positip atau negatif terhadap publik. Yang mereka yakini tampaknya adalah bahwa sensasi dan kontroversi yang dimunculkan Gus Dur adalah magnit yang luar biasa kuat untuk menarik perhatian khalayak pembaca.

* * *

Penulis adalah Staf Peneliti di ISAI.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: