Oleh: Agus Sudibyo | Maret 26, 2008

Interpelasi dan “Tabiat” Gus Dur

 

Oleh: Agus Sudibyo

Kalangan legislatif tampaknya telah kehilangan kesabarannya melihat sepak-terjang Presiden Gus Dur yang penuh kontroversi. Ancaman interpelasi yang dulu sekedar  gertakan terhadap sang presiden, kini menjadi rencana yang serius. Semakin banyaknya kasus bernuansa KKN di sekitar Gus Dur telah membulatkan tekad 277 anggota DPR untuk mempertanyakan keputusan Gus Dur melengserkan Laksamana Sukardi dan Jusuf Kala dari jabatan masing-masing dalam kabinet persatuan. Sungguh mengejutkan, 3 fraksi yang sebelumnya sulit dipertemukan –FPDIP, FPG dan Fraksi Reformasi– secara kompak meneriakkan tuntutan interpelasi dan angket terhadap Gus Dur.

Berbicara tentang tuntutan interpelasi dan angket ini, berarti juga berbicara tentang  “tabiat-tabiat” Gus Dur. Jika dirunut kebelakang, awal mula munculnya tuntutan itu tak lain adalah “tabiat” Gus Dur sendiri dalam menjalankan roda pemerintahan. Sebagai presiden, Gus Dur ternyata masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan lamanya sebagai elit pesantren dan tokoh LSM. Kesan informal, spontan, tanpa pikir panjang, ndagel dan melawan arus sangat terasa dalam sikap-sikap Gus Dur menghadapi berbagai masalah yang bagi banyak orang sangat krusial dan membutuhkan keseriusan.

Dapat dilihat misalnya, di saat berbagai pihak kebakaran jenggot menghadapi pencopotan dua menteri di atas, Gus Dur justru sempat-sempatnya mengumbar lelucon-lelucon segar dalam sebuah acara televisi. Di saat semua pihak sedang getol-getolnya menyuarakan reformasi di bidang hukum dan ketatanegaraan, Gus Dur justru berencana memaafkan Soeharto. Gus Dur juga menggunakan jalur informal untuk menangani problem kemanusiaan di Aceh, hingga melahirkan Bulloggate yang menggemparkan itu.

Pencopotan dua menteri di atas juga menunjukkan betapa spontannya  Gus Dur memutuskan kebijakan penting. Sungguh mengherankan bahwa Wapres Megawati yang sudah seperti “kakak-beradik” dengan Gus Dur, serta para kolega dekat Gus Dur di PKB sampai tidak mengetahui rencana pencopotan itu. Spontanitas Gus Dur yang paling ekstrem terlihat ketika secara tak sengaja ia mengakui telah menerima dana bantuan kemanusiaan sebesar  2 juta $ dari Sultan Brunei (Bruneigate).

Melihat keterusterangan Gus Dur mengungkapkan dana bantuan itu, pakar hukum Todung Mulya Lubis tidak yakin Gus Dur telah melakukan KKN. Lazimnya, seseorang yang melakukan KKN akan berusaha keras untuk menutup-nutupinya. Yang terjadi dalam Bruneigate menurut Lubis adalah Gus Dur masih bersikukuh dengan kebiasaan-kebiasaan tradisionalnya, tanpa mau repot-repot memikirkan bahwa kebiasaan itu tidak cocok lagi dengan kedudukannya sebagai pemimpin formal.  (Kompas, 12/06/00).

Kebiasaan-kebiasaan tradisional itu menjadi sangat problematis dalam konteks pemerintahan sekarang ini. Sikap Gus Dur yang informal, spontan, semau gue dan cenderung memandang “enteng” segala persoalan  menyuburkan prasangka-prasangka negatif di kalangan elit politik. Mereka ini tidak peduli lagi bahwa informalitas Gus Dur bisa jadi merupakan pilihan terbaik untuk memecahkan beberapa permasalahan yang dihadapi bangsa. Mereka juga tak peduli bahwa spontanitas Gus Dur bisa jadi merupakan pintu masuk yang baik menuju terwujudnya transparansi kekuasaan.

Prasangka elit politik terhadap Gus Dur hampir selalu didasarkan pada retorika-retorika yang bersifat legalistik-formalistik. Yaitu retorika yang bersandar pada konstitusi dan berbagai ketentuan hukum yang mengatur perilaku presiden dalam menjalankan pemerintahan. Dihadapkan pada retorika legal-formal, tak pelak informalitas, spontanitas dan kebiasaan tradisional Gus Dur yang lain menjadi sangat ilegitimate dan patologis. Apalagi jika retorika itu dipersandingkan dengan retorika yang menekankan bahwa reformasi hukum dan ketatanegaraan adalah  agenda utama reformasi pasca Soeharto.

Dalam konteks inilah, Laks/Kala-gate, Buloggate, BI-gate, dan Bruneigate  memberikan sumbangan yang sangat besar bagi runtuhnya kredibilitas Gus Dur, yang tercermin dari menguatnya tuntutan interpelasi. Sebab dalam kasus-kasus itu nuansa  kebiasaan tradisional Gus Dur sangat kental, dan para elit politik ramai-ramai mengugatnya dengan retorika-retorika legal-formal.

Di sisi lain, elit politik juga menyudutkan Gus Dur dengan retorika-retorika “KKN” ala Soeharto. Dengan sedikit latah, elit politik mengadopsi istilah-istilah standart yang dulu digunakan untuk menggambarkan praktek KKN di sekitar Soeharto. Maka merebaklah kemudian istilah “kroni-kroni Gus Dur”, “orang-orang dekat Gus Dur”, “orang-orang di sekitar Gus Dur” dan “para pembisik Gus Dur” dan lain-lain. Dalam ranah simbolik, istilah-istilah ini bagaimanapun meneguhkan prasangka bahwa di sekitar Gus Dur memang telah terjadi praktek-praktek KKN.

“Tabiat-tabiat” Gus Dur di atas, mengingatkan kita pada tabiat pendahulunya, Bung Karno. Seperti dikatakan  John D Legge (1985), Bung Karno adalah pemimpin  yang cenderung tidak mau terikat pada tatanan dan norma-norma. Sebuah dokumen CIA tahun 1961 juga menyatakan bahwa Bung Karno bukanlah figur yang penuh teka-teki. Riwayat hidup Si Bung sangat gamblang. Ia tak terlalu pandai menyembunyikan kecenderungan politiknya, bahkan sering kali dengan tanpa beban mengungkapkan proyeksi-proyeksinya ke depan. Si Gus tampaknya juga mewarisi sisi paradoksal dalam diri Si Bung : seorang pemimpin yang berjiwa demokrat sekaligus cenderung otoriter, seorang figur yang terbuka sekaligus sulit menerima kritik.

Pertanyaan yang menggelitik keingintahuan kita kemudian adalah haruskah Gus Dur juga mengalami nasib yang sama dengan Bung Karno : terlempar dari kursi kepresidenan  secara “prematur” dan abnormal. Hal ini bergantung pada sejauhmana kemauan Gus Dur untuk menyadari bahwa ia menjadi bagian dari unsur-unsur yang harus mau berubah demi tegaknya cita-cita reformasi. Hal itu juga tergantung pada  sejauh mana elit politik yang telah meneriakkan tuntutan interpelasi memandang urgensi Gus Dur bagi bangsa ini, sekarang dan di masa mendatang.

 

Penulis adalah Alumnus Fisipol UGM dan Staf Peneliti Pada ISAI Jakarta

 

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: