Oleh: Agus Sudibyo | Maret 26, 2008

Menggalakkan Jurnalisme Damai

 

Oleh: Agus Sudibyo

Konflik SARA tampaknya masih akan menjadi salah satu fokus pemberitaan media. Bagaimana tidak, Maluku masih bergolak, letupan-letupan kerusuhan masih terjadi di Aceh, sementara kerusuhan baru meletus di Poso. Namun, memberitakan konflik SARA ternyata bukan perkara yang mudah bagi kalangan pers.

Dalam hal ini, secara umum media-media nasional dihadapkan pada dilema. Di satu sisi, mereka dihadapkan pada keharusan untuk memberitakan konflik-konflik SARA sekomprehensif mungkin untuk memberikan gambaran yang sesungguhnya kepada khalayak. Pilihan ini mengandung resiko media akan dituduh memperuncing konflik (conflict intensifier).

Di sisi lain, media dihadapkan pada  tuntutan berbagai pihak untuk  turut menciptakan kondisi yang kondusif untuk menyelesaikan konflik (conflict diminisher). Memenuhi harapan ini mengandung resiko media harus menyeleksi –bahkan menutupi– fakta-fakta yang dianggap sensitif bagi kelompok-kelompok tertentu. 

Media nasional saat ini terbagi berdasarkan dua pilihan di atas. Di satu sisi, beberapa media menampilkan laporan-laporan yang bombastis, fulgar dan konfrontatif tentang konflik SARA di Kepulauan Maluku. Media-media ini secara terang-terangan membagi pihak yang bertikai ke dalam dua kubu yang bermusuhan, serta merekonstruksi konflik yang terjadi dalam konteks “menang-kalah”, “ditundukkan-menundukkan”. Media-media ini juga terpola untuk menyoroti dampak-dampak konflik : ribuan orang yang terbantai, puluhan wanita yang diperkosa, ribuan rumah yang terbakar dan lain-lain. Corak pemberitaan semacam ini tentu saja dapat memperkuat rasa permusuhan di kedua belah pihak dan dapat membuat api konflik semakin membara.

Di sisi lain, banyak media mengembangkan sikap yang sangat berhati-hati dalam memberitakan konflik SARA. Tergerak untuk turut mendinginkan konflik yang tengah  berlangsung, pihak media melakukan self-sensorsif  secara ketat. Jika terpaksa, peristiwa-peristiwa  pembantaian yang terjadi –dan layak diberitakan– terpaksa tidak diberitakan, jika pemberitaan itu dipertimbangkan dapat menimbulkan pembalasan kelompok lain, baik yang berada di daerah konflik maupun diluar wilayah konflik.

Kedua jenis pemberitaan ini sama-sama mengandung kelemahan. Yang pertama  dapat menyebabkan api konflik semakin membara, sedangkan yang keduanya tidak dapat memberikan gambaran tentang realitas konflik kepada khalayak. Pada titik inilah dirasakan urgensi praktek jurnalistik yang tidak mempermasalahkan siapa yang bersalah dan siapa korban, siapa yang menang dan siapa yang pecundang dalam sebuah konflik. Jurnalisme yang dapat mendorong media untuk membuat berita yang komprehensif tentang konflik SARA tanpa dihantui ketakutan diprotes kelompok-kelompok tertentu.

Solusi yang layak untuk dikedepankan dalam hal ini adalah “jurnalisme damai”. Istilah ini pertama kali muncul dalam Kursus Jurnalisme Perdamaian yang diselenggarakan di Taplow Court, Buckinghamshire, Inggris, pada tanggal 25-29 Agustus 1997.  Jurnalisme damai merupakan kritik terhadap jurnalisme perang yang dikembangkan media-media Barat. Dalam meliput konflik atau perang di berbagai negara, media-media barat terpola untuk menempatkan konflik sebagai persoalan “menang-kalah”, “ditundukkan-menundukkan”. Pemberitaan mereka juga terlalu berfokus pada tindakan-tindakan kekerasan yang terjadi tanpa banyak mengkaji akar konflik, dampak-dampak dan apa pemecahannya.

Jurnalisme damai adalah praktek jurnalistik yang bersandar pada pertanyaan-pertanyaan kritis tentang manfaat aksi-aksi kekerasan dalam sebuah konflik dan tentang hikmah konflik itu sendiri bagi. Jurnalisme damai melihat perang/pertikaian bersenjata sebagai sebuah masalah, sebagai ironi kemanusiaan yang tidak seharusnya terjadi. Dalam konteks ini, jurnalisme damai pada dasarnya adalah seruan kepada semua semua pihak memikirkan hikmah konflik. Yaitu dengan senantiasa menggarisbawahi kerusakan dan kerugian psikologis, budaya dan struktur dari kelompok masyarakat yang menjadi korban konflik atau perang.

Jurnalisme damai lebih mementingkan empati kepada korban-korban konflik daripada liputan kontinyu tentang jalannya konflik itu sendiri. Dalam kasus Maluku misalnya, jurnalisme damai akan cenderung untuk menceritakan kisah tragis dan traumatik orang-orang yang kehilangan sanak-saudara dan terusir dari kampung halaman; anak-anak yang kehilangan orang-tuanya, ibu yang kehilangan seluruh anggota keluarganya dan lain-lain.

 Jurnalisme damai juga lebih berpretensi untuk menonjolkan harapan rekonsiliasi di kedua belah pihak. Harapan si Muslim untuk hidup berdampingan secara damai dan akrab dengan si Kristen yang pernah terwujud di kampungnya. Harapan si obet tentang persahabatannya yang hangat dengan si acan yang sekarang sudah menjadi pengungsi.

Jurnalisme damai memberi porsi yang sama kepada semua versi yang muncul dalam wacana konflik. Jurnalisme damai juga berusaha mengungkapkan ketidakbenaran di kedua belah pihak, bahkan kalau perlu menyebutkan nama pelaku kejahatan (evil-doers) di kedua belah pihak. (Pantau, Edisi 09, 2000:47).

Jurnalisme damai sangat urgen bagi pers di negara yang sarat potensi konflik seperti di Indonesia. Jurnalisme damai juga merupakan solusi strategis untuk mengatasi dilema pers Indonesia dalam memberitakan konflik SARA seperti dijelaskan di atas. Konsep jurnalisme damai bukan hanya perlu untuk meliput konflik-konflik besar, namun juga konflik berskala kecil seperti konflik antar kampung di Matraman, Jakarta Pusat.

Namun perlu dipertimbangkan bahwa jurnalisme damai dapat mendorong media  menegasikan pentingnya penyelesaian hukum dalam konflik SARA. Terlalu hanyut menyoroti harapan-harapan rekonsiliasi kedua belah pihak, media dapat lupa bahwa konflik SARA juga harus diselesaikan dengan kepastian hukum bagi semua pihak yang terlibat.   

 

Penulis : Agus Sudibyo, Analis Media pada Program Media Watch ISAI Jakarta

Alamat : Jl. Utan Kayu 68H Jakarta Tilp. 8573388 ext. 119

Iklan

Responses

  1. If you live in Weston Florida and plan on refinancing an existing mortgage or get a new mortgage beware of scam artist Tulio J. Rodriguez. This so called “Mortgage & Finance Specialist” will tell you just about anything to get your business. His group of scavengers “Real Estate Agents and Mortgage Specialists” lie through their teeth to take your money.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: