Oleh: Agus Sudibyo | Maret 26, 2008

Prasangka Media Dalam Konflik Israel-Lebanon

 

Oleh : Agus Sudibyo

Prinsip analisis-framing menyatakan bahwa terjadi proses seleksi dan penajaman terhadap dimensi-dimensi tertentu dari fakta yang terberitakan dalam media. Fakta tidak ditampilkan secara apa-adanya, namun diberi bingkai (frame) sehingga menghasilkan konstruksi makna yang spesifik. Dalam hal ini, awak media lazim menyeleksi sumber berita, memanipulasi pernyataannya, dan serta mengedepankan perspektif tertentu sehingga suatu interpretasi  menjadi lebih noticeable daripada interpretasi yang lain. (Entman, 1991: 9)

Proses-proses framing tampaknya juga terjadi dalam berita-berita media massa di Indonesia tentang peristiwa penarikan mundur pasukan Israel dari Lebanon Selatan beberapa waktu lalu. Sungguh mengherankan bahwa fakta yang sama menjadi jauh berbeda ketika diberitakan oleh media dengan corak ideologis yang berbeda. Media bercorak ideologis Kristen menampilkan tinjauan yang berseberangan dengan media bercorak Islam. Masing-masing dari mereka menampilkan sebuah story-line yang melahirkan citra atau gambaran yang  bertolakbelakang tentang peristiwa tersebut.

*   *   *

Sebagai media bercorak ideologis “Kristen”, Suara Pembaruan mencitrakan gerilyawan Hezbullah sebagai teroris dan perongrong stabilitas regional Timur Tengah. Sebuah berita Suara Pembaruan (25/5/00) diawali dengan kalimat “Gerilyawan Hizbullah yang Didukung Iran dan Suriah banyak Tewaskan Pasukan Israel dan Tentara Lebanon Selatan”. Kalimat ini bukan hanya mengandung prasangka negatif terhadap Iran dan Suriah, namun juga terasa ironis korban dari pihak Lebanon dalam konflik di Lebanon Selatan lebih besar dibandingkan korban dari pihak Israel.

 Sebaliknya, Suara Pembaruan mencitrakan Israel sebagai pihak yang bijaksana dan berithikat baik. Mengutip pernyataan PM Israel, Ehud Barak, Suara Pembaruan menegaskan bahwa Israel sebenarnya tidak menginginkan sedikit pun wilayah Lebanon. Suara Pembaruan bahkan menggarisbawahi bahwa pendudukan Israel atas Lebanon dan dukungannya terhadap SLA adalah semata-mata untuk melindungi kedaulatan negeri Israel dari ancaman gerilyawan Hezbullah.

Gambaran yang agak berbeda ditampilkan oleh Kompas. Dalam beritanya tentang penarikan mundur pasukan Israel, Kompas lebih cenderung menyoroti kegembiraan tentara Israel yang kembali ke negerinya. Gambaran tentang kegembiraan rakyat Lebanon Selatan ditampilkan dalam porsi yang lebih kecil.

.Namun, pemberitaan Kompas juga tak luput dari bias. Kompas menyebutkan bahwa pendudukan Israel di Lebanon Selatan telah menewaskan 1.200 tentara Israel, tanpa memperhatikan seberapa besar jumlah korban dari warga Lebanon dan gerilyawan Hezbullah. Dengan mengutip pernyataan sumber-sumber Israel, Kompas juga telah menampilkan prasangka yang negatif tentang Hezbullah dan Suriah.

Di sisi yang bertolak belakang, Republika sebagai media Islam melihat penarikan mundur pasukan Israel itu sebagai realitas yang melakukan bagi Israel. Dalam hal ini, Republika (25/5/00) menampilkan berita berjudul “Penarikan Militer Israel dari Lebanon, Hari yang Memalukan”. Republika memaknai peristiwa itu sebagai “kekalahan terbesar negara Zionis yang memiliki militer paling perkasa di kawasan Timur Tengah”, dan menyamakan “kekalahan” Israel itu dengan kekalahan AS dalam perang Vietnam.

Sebaliknya, Republika melihat peristiwa itu sebagai kemenangan warga Lebanon dan dunia Arab atas Israel. Republika menonjolkan kegembiraan umat Islam di Timur-Tengah menyambut kemenangan itu dan menyakini bahwa kemenangan itu akan membangkitkan gerakan perlawanan negara-negara Arab melawan Israel.    

*  *  *

Apa yang dapat disimpulkan dari realitas di atas ? Perilaku masing-masing media tampaknya membenarkan pendapat Walter Lipman tentang adanya sejumlah asumsi atau prasangka yang  merasuki benak awak media sebelum dan pada saat mereka menghadapi fakta. Prasangka itu lebih menentukan bagaimana fakta ditampilkan dalam presentasi media daripada kaedah-kaedah jurnalistik yang baku. Awak media seringkali memaknai suatu fakta berdasarkan apa yang ada dalam benaknya, dan bukannya berdasarkan hasil reportase di lapangan. (Lipmann 1965:54-55)

Dalam konteks ini, menjadi suatu keniscayaan bahwa awak media akan berprasangka positip terhadap kelompok yang beridentitas sama, dan sebaliknya berprasangka negatif terhadap kelompok yang beridentitas berbeda. Dan seperti yang terlihat di atas, media bercorak Islam  cenderung berprasangka positip tentang kelompok Islam atau berprasangka negatif terhadap kelompok Kristen. Sebaliknya, Media bercorak Kristen  cenderung berprasangka positip tentang kelompok Kristen atau berprasangka negatif terhadap kelompok Islam. 

Masing-masing media tampaknya juga gagal melakukan depersonalisasi dalam meliput dan menyiarkan fakta. Kegagalan depersonalisasi ini membuat mereka tidak bisa menanggalkan luapan emosi dan sentimennya sendiri ketika menyajikan sebuah berita, serta cenderung terjebak untuk menonjolkan informasi-informasi satu sisi. Media Islam cenderung mengandalkan sumber-sumber berita Islam, sebaliknya media-media non-Islam cenderung menonjolkan sumber-sumber berita non-Islam.

Gambaran yang lebih netral dan tidak berprasangka, dimunculkan oleh harian Media Indonesia. Dalam beritanya tentang penarikan mundur pasukan Israel itu, Media Indonesia lebih tertarik untuk menyoroti kegembiraan kedua belah pihak, tentara Israel dan warga Lebanon Selatan. Perang ternyata tidak membahagiakan, baik bagi mereka yang selama ini dianggap sebagai pemenang maupun sebagai korban. Tentara Israel menyanyi-nyanyi kegirangan ketika kembali ke negerinya tanpa mensiratkan kebanggaan sebagai “aneksator” yang gemilang. Sebaliknya, warga Lebanon dan aktivis Hezbullah tak bisa menyembunyikan kegembiraan yang luar biasa atas berakhirnya supremasi Israel di Lebanon Selatan. Media Indonesia sedikit-banyak telah mempraktekkan apa yang disebut “jurnalisme damai”. Yaitu jurnalisme yang lebih mengedepankan harapan dan hasrat untuk berdamai daripada aroma dendam dan kebencian pada kedua belah pihak.  

*   *   *

Penulis adalah Staf Peneliti Pada Media Wacth  ISAI


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: