Oleh: Agus Sudibyo | Maret 26, 2008

Solusi Buat Para Jurnalis “Kagetan”

(Peter Henshall & David Ingram, Menjadi Jurnalis, ISAI, Jakarta, 2000, 249 + ix hlm.)

 

Oleh: Agus Sudibyo

Tumbangnya rejim Orde Baru merupakan berkah tak ternilai bagi segenap  insan pers di Indonesia. Kontrol negara terhadap pers menjadi sedemikian longgar, pembredelan tak lagi menjadi momok yang menakutkan, demikian juga dengan bentuk-bentuk represi negara yang lain. Bersamaan dengan semakin  menggeloranya semangat  reformasi, bermunculan pula media-media baru dengan corak yang egaliter, kritis dan lugas dalam menyoroti realitas-realitas sosial-politik.

Lahirnya media baru, berarti semakin banyak tenaga yang dibutuhkan bidang kerja pers. Persoalannya adalah tidak banyak tersedia SDM jurnalistik yang siap pakai atau berpengalaman. Media-media baru juga tak punya banyak waktu dan biaya untuk mentraining calon wartawannya. Padahal mereka harus berpacu dengan isu-isu politik, SARA, KKN, dan HAM yang terus bergulir kencang dan mengusik naluri bisnis mereka.

Tak pelak lagi, kondisi tersebut memicu lahirnya wartawan-wartawan “kagetan”. Dengan kemampuan jurnalistik yang serba terbatas, para anak muda dari berbagai tingkat dan latar belakang pendidikan menceburkan diri menjadi wartawan. Mereka belum sempat mempelajari seluk-beluk kerja jurnalistik secara komprehensif dan bisa jadi hanya dibekali petunjuk untuk menghadapi konferensi pers dan seminar. Namun apa boleh buat,  kasus-kasus yang sensitif dan krusial menjadi santapan sehari-hari mereka.

Pada titik inilah, keberadaan buku Menjadi Jurnalis ini sangat penting untuk memperkaya wawasan para wartawan “kagetan” itu. Buku ini membahas seluk-beluk kerja jurnalistik, dan berusaha menghantarkan pembaca untuk mempelajari dasar-dasar peliputan dan penulisan berita. Kelebihan buku  berjudul asli The News Manual ini terletak pada bahasanya yang mudah dicerna. Contoh-contoh kasus yang diberikan juga mudah dipahami dan cukup kontekstual dengan problem praktek jurnalistik dunia ketiga. Walaupun terkesan agak menggurui, saran dan instruksi yang diberikan sangat membantu pembaca untuk memahami praktek jurnalistik, demikian juga dengan latihan-latihan yang diberikan. Oleh karena itu, buku ini sangat cocok untuk para wartawan yang tidak punya banyak waktu untuk membaca, namun dituntut meningkatkan kualitas kerjanya.

*   *   *

Persoalan mendasar yang cukup dominan dalam berita media massa di tanah air belakangan adalah pencampuradukkan antara fakta dan opini. Bisa jadi hal ini berawal dari kesulitan teknik produksi berita, dimana wartawan dibebani untuk membuat sekian laporan dalam waktu yang sangat terbatas. Namun bisa juga hal itu disebabkan oleh ketidaktahuan sang wartawan tentang batasan-batasan fakta dan opini. Bab VI dari buku ini memberi petunjuk bagaimana wartawan harus memisahkan fakta dan opini, melakukan atribusi  dan mengutip pernyataan sumber berita secara benar. Wartawan juga diingatkan untuk tidak gegabah dalam menghadapi fakta dan opini. 

Buku ini juga relevans untuk mengendalikan kebiasaan wartawan menggunakan sumber-sumber berita yang tidak jelas dan kabur. Dalam pemberitaan pers kita belakangan, semakin sering ditemukan penyebutan “sumber-sumber terpercaya”, “sumber-sumber di lapangan” dan “sumber-sumber terkait” dan lain-lain. Sumber berita yang tidak jelas ini tentu saja  mengurangi validitas dan akurasi informasi yang disajikan oleh media karena unsur who (siapa) telah diabaikan oleh awak media.

Persoalan lain yang juga dibicarakan dalam buku ini adalah penggunaan frase “seperti diyakini secara umum bahwa”, “sudah dimengerti bahwa” dan lain-lain. Frase-frase semacam ini mensiratkan kecenderungan wartawan untuk menggeneralisir fakta dan menonjolkan opininya sendiri dalam laporan yang mereka buat. Awak media bukan sekedar mendeskripsikan fakta-fakta yang mereka dapatkan di lapangan, akan tetapi juga mengomentari, memberikan evaluasi bahkan “menghakimi” fakta.. Di sini timbul permasalahan yang sangat mendasar. Sebab, mengutip pernyataan wartawan senior, Saur Hutabarat, tugas insan pers adalah sebatas mendeskripsikan fakta (to descript), dan bukannya menerangkan (to explain), menafsirkan atau lebih ekstrem lagi menilai fakta.

 Buku ini juga mengingatkan kalangan wartawan untuk tidak cenderung  menggunakan istilah-istilah yang bermakna konotatif (Bab VII). Hal ini sangat penting karena belakangan dapat disaksikan betapa besarnya kecenderungan penggunaan hiperbola, metafora, eufemisme dan disfemisme dalam praktek jurnalistik kita. Beberapa media seakan-akan tidak memperdulikan perbedaan antara bahasa jurnalisik yang mengacu pada fakta dan bahasa sastra yang mengacu pada dunia maya. Sebuah berita yang mengandung hiperbola atau eufemisme, sudah barang tentu bukan berita yang akurat. Sebab berita tersebut  mengandung dramatisasi, dimana fakta tidak ditampilkan sebagaimana adanya, namun dilebih-lebihkan atau sebaliknya direduksi.

*  *   *

Wartawan-wartawan “kagetan” sudah terlanjur lahir dan mewarnai kehidupan pers di tanah air. Sungguh sulit untuk mempermasalahkan kualifikasi mereka, karena kenyataannya tenaga mereka memang dibutuhkan. Yang perlu digalakkan pada titik ini adalah kesadaran untuk mempelajari kembali apa itu jurnalisme dan bagaimana menjadi jurnalis yang profesional. Di sela-sela menjalankan tugas-tugas rutinnya, mereka  perlu meluangkan waktu untuk membaca buku semacam ini. Mereka perlu memperkaya wawasan jurnalistik sehingga pada akhirnya mereka bukan hanya bekerja berdasarkan perintah atasan, namun juga berdasarkan konsep yang jelas. Singkat kata, buku semacam ini adalah sebuah solusi bagi kalangan  wartawan “kagetan” untuk bekerja sambil belajar.

 

Peresensi : Agus Sudibyo, Alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: