Oleh: Agus Sudibyo | Maret 27, 2008

Dalam Dekapan Krisis Identitas

 

Oleh: Agus Sudibyo

Runtuhnya rejim komunis tahun 1989 membawa kawasan Eropa Timur pada situasi “krisis identitas”. Ketika komunisme tak lagi membangkitkan rasa segan, ketika komunisme tak lagi menjadi “roh” yang menyatukan, bangsa-bangsa bekas Uni Soviet dan Blok Timur berbondong-bondong menggali kembali identitas lamanya berdasarkan sensibilitas etnis, religius, dan nasionalisme. Sebuah krisis yang kemudian memberi penyadaran  bahwa identitas nasional ternyata bukan sesuatu yang final dan tak dapat dipertanyakan. Meminjam penjelasan kubu non-esensialist dalam studi tentang identitas,  identitas nasional  bersifat relasional,  kontekstual, dan terbentuk melalui perubahan-perubahan sosial. Identitas bukan sesuatu yang kodrati, melainkan hasil konstruksi sosial manusia. (Woodward,2002,hlm.11) Ben Anderson bahkan menyimpulkan identitas nasional adalah “cultural artefacts of a particular being”.  Kesenjangan dan Ketidakadilan Tanpa terkecuali di sini adalah identitas nasional yang terejawentahkan dalam “Negara Kesatuan Republik Indonesia” (NKRI). Jatuhnya rejim Orde Baru membuka lembaran sejarah baru di mana identitas nasional terkoyak-koyak oleh aneka-rupa konflik etnis, agama dan nasionalisme. Indonesia menanggung beban yang tak kalah berat dibandingkan Uni Soviet atau Yugoslavia dalam menghadapi krisis identitas kebangsaan. Dan letupan kekerasan yang kini masih mengoyak Poso, serta ketegangan di seputar isu pemekaran dan otonomi khusus Papua memberi sinyal bahwa krisis tersebut tak akan segera  berakhir dalam waktu dekat. Jelas ini bukan kabar gembira bagi mereka yang meyakini NKRI sebagai formulasi final bagi seluruh komunitas dari Sabang sampai Merauke. Namun letupan-letupan kekerasan itu sangat berguna untuk mengingatkan bahwa memang ada yang salah dengan nasionalisme kita. Apa yang salah ? Tak mudah menjawabnya. Teori Ben Anderson tentang “komunitas-komunitas terbayang” mungkin sedikit membantu. Menurut Anderson, bangsa dan kebangsaan sesungguhnya bukan sebuah kolektivitas politik, melainkan “khayalan” tentang kolektivitas politik. Disebut khayalan karena sebagai bangsa,  kita tidak pernah benar-benar saling-mengenal satu sama lain. Pada benak setiap anggota bangsa hidup bayangan tentang kebersamaan dan kesetiakawanan, tanpa peduli ketidakadilan, ketimpangan, penghisapan terus terjadi dalam kerangka kebangsaan itu. (Imagined Communities, Insist Press, 2001)Kesalahan kita barangkali tidak pernah membuktikan kesalahan teori “komunitas-komunitas terbayang”. Sebaliknya, relatif mudah mem-verifikasi teori ini berdasarkan kondisi-kondisi faktual. Sebagian besar orang Papua belum pernah menginjakkan kakinya di Jawa, demikian pula sebaliknya. Lebih dari itu, kita masih cenderung mempersepsi Papua sebagai sesuatu yang berjarak, sesuatu yang berada di luar kosmologi kita. Apa yang ada dibenak kita ketika membayangkan Papua kurang-lebih adalah gambaran tentang budaya yang eksotik, tradisional dan pra-modern. Orientalisme dalam persepsi ini membuat kita menjadi kurang sensitif terhadap perilaku dan kebijakan yang tanpa disadari bersifat diskriminatif terhadap bangsa Papua.Keraguan dan sinisme terhadap nasionalisme Indonesia juga tak akan reda sejauh kesuksesan demi kesuksesan, kegagalan demi kegagalan, beban demi beban, serta peluang demi  peluang sebagai bangsa  belum terdistribusikan dengan adil. Hari ini peradaban modern begitu mudah ditemukan di sudut-sudut Jawa,  sementara banyak saudara kita dipelosok Papua, Kalimantan masih berada pada  peradaban batu, hidup dari meramu dan berburu. “Satu nusa, satu bangsa, beda nasib”. Sebuah ironi  pembangunan yang sulit dimaafkan bagi mereka yang belum tersejahterakan. Apalagi yang terjadi bukan sekedar kesenjangan, namun juga penghisapan. Kekayaan alam Papua terus-menerus dieksploitasi untuk menopang proyek-proyek dan kebutuhan di luar Papua. Yang tersisa bagi masyarakat  asli adalah bukit-bukit yang telah menjadi kubangan raksasa, sungai yang telah menjadi saluran limbah, serta alam yang tak lagi mampu  memberi penghidupan.  Politik Identitas Kita saat ini membutuhkan politik identitas yang mempertimbangkan faktor geo-politis dan geo-ekonomis itu. Sangat tidak memadahi jika politik identitas hanya diterjemahkan dengan kehadiran Presiden dalam perayaan natal bersama rakyat Papua, atau ithikat baik pemerintah membentuk Majelis Rakyat Papua. Wacana pengembalian otonomi khusus mengemuka karena persepsi bahwa pemerintah tidak membuat terobosan signifikans guna mengurai ketidakadilan ekonomi yang dirasakan rakyat Papua.  Rakyat Papua semakin imun terhadap segala rupa bujuk-rayu, janji-janji pembangunan dan pemerataan. Yang mereka tuntut adalah bukti-bukti bahwa bergabung dengan NKRI adalah pilihan yang lebih baik daripada berdiri sendiri. Yang ditunggu adalah nasionalime yang membuat mereka benar-benar senasib dan sepenanggungan dengan bangsa-bangsa di sekujur Nusantara. Namun tak ada gelagat pemerintah serius dengan politik identitas itu. Politik identitas atau strategi kebudayaan mungkin dilihat sebagai proyek jangka-panjang yang melelahkan dan tidak praktis. Pemerintah sudah terpola untuk mendekati suatu masalah dengan cara-cara praktis :  pendekatan militeristik berbasis kekerasan.Jika hal ini terus terjadi, semakin sulit mewujudkan janji para founding fathers bahwa  nasionalisme Indonesia bukanlah “nasionalisme jang menjerang-jerang, nasionalisme jang mengejdar kepentinganja sendiri, dan nasionalisme perdagangan jang untung atau rugi”. (Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi, 1959).  Penulis : AGus Sudibyo, Deputy Directur Yayasan SET Jakarta 


Responses

  1. Kebebasan Pers..ya..ehmmmm

    Saya pikir, pers saat ini “belum” memberikan dampak yang besar bagi peradaban bangsa. Karena saya masih melihat kepentingan akan ekonomi (uang) lebih dominan. Banyak pers yang saat ini menjadi kendaraan politik paling ampuh untuk menjadikan si A atau si B menduduki posisi puncak. Sementara pembelajaran pers kepada masyarakat belum menyentuh ke akarnya. tapi ini pendapat pribadi saya mas…salam kenal aja ya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: