Oleh: Agus Sudibyo | Maret 28, 2008

Kandidat Presiden dan Realitas Media

oleh: Agus Sudibyo

Ketika berbagai polling menempatkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  sebagai kandidat presiden nomor satu pilihan publik, Taufik Kiemas disebut-menyebut sebagai orang yang berjasa mengangkat popularitas SBY. Saat masih menjabat sebagai Menko Polkam, SBY beberapa kali menjadi sasaran serangan politik  Taufik Kiemas. SBY dituduh tidak jujur dengan ambisi politiknya untuk maju dalam bursa pencalonan  presiden. Kiemas menantang SBY untuk secara terbuka menyatakan ambisinya itu kepada publik dan segera mundur dari Kabinet  Megawati. Serangan politik ini uniknya justru menaikkan popularitas SBY. Publik lebih banyak melihat SBY sebagai korban dari  politik nepotisme di sekitar presiden Megawati.

Namun SBY sesungguhnya pertama-tama bukan harus berterima kasih kepada Taufik Kiemas, melainkan kepada media massa. Apa-jadinya jika konflik SBY-Kiemas tidak diberitakan secara intensif oleh media? Apa-jadinya jika momentum mundurnya SBY dari kabinet Abdurrahman Wahid tidak menjadi fokus pemberitaan media? Popularitas SBY mungkin tidak sefenomenal seperti sekarang ini. SBY mendapatkan keuntungan politis dari konfliknya dengan Taufik Kiemas, Megawati dan juga Abdurrahman Wahid karena media secara intensif memberitakan konflik tersebut dan menempatkan SBY pada sisi yang favourable bagi publik. Media adalah faktor determinan dalam mengatrol preferensi publik terhadap SBY.

Seperti halnya kelompok masyarakat yang lain, komunitas media juga menginginkan figur pemimpin baru. Namun sebenarnya tidak ada unsur kesengajaan media untuk mengatrol popularitas SBY. Media tidak mempunyai agenda khusus untuk menampilkan SBY sebagai satu-satunya pemimpin alternatif. Agenda utama media adalah mengevaluasi kinerja pemerintah. Fokus perhatian media adalah kegagalan Kabinet Megawati dalam menjalankan agenda-agenda reformasi. Pers dihadapkan pada kebutuhan untuk mengritik pemerintah, namun manifestasi kritik ini kemudian  menghasilkan efek legitimasi kepada figur seperti SBY.

Realitas politik tentang SBY sesungguhnya merupakan realitas yang kompleks. Namun realitas itu tidak seluruhnya ditampilkan media. Media menyeleksi realitas itu, lalu menonjolkan sisi-sisi yang relevans untuk kebutuhan kritik terhadap pemerintah. Mengutip Gamson (1987), untuk mewujudkan agenda politis tertentu, media lazim melakukan proses seleksi, reduksi, generalisasi dan  simplifikasi atas fakta-fakta yang sesungguhnya kompleks. Kebenaran tentang suatu peristiwa tidak diingkari sepenuhnya, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan sorotan pada aspek tertentu. Proses inilah yang kemudian disebut sebagai media framing.

Keputusan SBY mengundurkan diri dari Kabinet Abdurrahman Wahid  pertengahan  2001 misalnya, bisa saja dilihat sebagai manisfestasi inkonsistensi   SBY terhadap kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ketika presiden Wahid menghadapi krisis politik, SBY semestinya tetap berada dalam barisan. Namun pers umumnya  menonjolkan tafsir lain dalam melihat peristiwa itu : pemerintahan Wahid semakin goyah dan tidak krebidel, dan keputusan SBY untuk mundur adalah keputusan yang tepat.

Provokasi politik Taufik Kiemas terhadap SBY di sisi lain sebenarnya juga bukan peristiwa aneh dalam kehidupan politik. Kiemas bahkan melontarkan fatsun politik : SBY harus jujur menyatakan ambisinya untuk maju dalam bursa pencalonan presiden dan segera mundur dari jabatan sebagai menteri.  Namun mayoritas media memotret kasus ini dari frame yang lain : Kiemas telah melakukan tindakan yang secara politis tidak etis dan arogan, dan  SBY adalah korban dari nepotisme politik di seputar presiden Megawati.

Sebagai pribadi, SBY memang mampu mengembangkan sikap yang simpatik di mata publik. Pada banyak segi, sikap-sikap SBY merupakan kontras dari sikap presiden Abdurrahman Wahid serta Megawati. Media menyadari hal ini, dan menggunakannya sebagai medium kritik terhadap 2 presiden tersebut. SBY yang terbuka dan inteleks dibandingkan dengan Megawati yang  tertutup dan pendiam. SBY yang tenang, terukur dan bijak dibandingkan dengan Abdurrahman Wahid yang emosional dan reaktif. SBY adalah pemimpin yang reformis dan berprospek cerah di masa depan. Sementara Gus Dur dan Megawati banyak digambarkan sebagai tokoh out of date dan gagal menjalankan cita-cita reformasi.

Perbandingan yang tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak bisa dikatakan fair. Jika mau jujur, banyak pula yang perlu dikritik pada diri SBY. Peran SBY dalam proses penyelesaian konflik Aceh bisa menjadi contoh.  Penetapan darurat militer untuk Aceh membuka potensi baru bagi pelanggaran HAM di Aceh. Sebuah kebijakan yang kontraproduktif bagi agenda reformasi di bidang HAM. Namun sasaran kritik tentang kebijakan ini lebih banyak ditujukan pada Megawati dan institusi militer secara langsung. 

Citra SBY justru terselamatkan karena komunitas media menunjukkan sensibilitas berbeda dalam melihat kasus Aceh. Sebagian media melihat kasus Aceh dengan perspektif HAM, namun sebagian lain menggunakan perspektif nasionalisme. Banyak media terpengaruh propaganda NKRI yang dihembuskan TNI. Jika frame NKRI yang digunakan, status darurat militer, dengan SBY sebagai salah-satu inisiatornya, adalah keputusan yang legitimate.

Ada proses seleksi dan simplifikasi fakta dalam hal ini. Sisi tertentu dari fakta tentang SBY dikedepankan dengan mengabaikan sisi yang lain. Meminjam istilah Pippa Norris (1996) ada bias sistemik (the systemic bias) dalam praktek penentuan fakta mana yang perlu ditonjolkan atau sebaliknya ditenggelamkan. Bias yang  menyebabkan kesenjangan antara realitas sesungguhnya (the riil reality) dengan realitas bentukan media (the media made reality).

Akumulasi dari proses media framing ini telah memberi kontribusi positip bagi popularitas SBY. Proses delegitimasi terhadap Abdurrahman Wahid dan Megawati dalam banyak kasus menghasilkan efek legitimasi terhadap SBY. Namun bagi media yang lebih penting adalah bagaimana menjalankan fungsi watch-dog. Dengan mekanisme di atas, dengan menggunakan figur SBY sebagai perangkat kritik, media berhasil mengabarkan kepada publik  betapa centang-perenangnya pemerintah dalam mengawal agenda-agenda reformasi.

Persoalannya menjadi berbeda ketika SBY dan Megawati kini saling berhadapan di  bursa pemilihan presiden babak akhir. Yang dihadapi media dalam hal ini pertama-tama bukan Megawati sebagai presiden dan SBY sebagai figur alternatif calon presiden, melainkan dua politisi yang sama-sama berambisi untuk duduk pada kursi RI 1. Tak relevans lagi menempatkan SBY sebagai simbol kritik terhadap Megawati karena SBY sendiri sebagai calon presiden juga harus dilacak dan dibeberkan karier politiknya.  Apakah benar SBY seorang figur yang reformis, visioner dan layak  menggantikan Megawati? Apa benar SBY akan lebih baik dalam memimpin negeri ini?

Media massa sesungguhnya mempunyai porsi untuk menjawab pertanyaan ini. Media bisa memberikan pandangan alternatif atau merekomendasikan publik untuk memilih salah-satu pasangan capres/cawapres. Namun berdiri di tengah-tengah dan menjaga jarak dari kedua belah pihak jauh lebih  elegan. Terutama jika dihadapkan pada dua calon presiden yang sama-sama prospektif atau sama-sama bermasalah sehingga kalangan media sendiri ragu-ragu siapa yang lebih baik di antara keduanya. Berdiri di tengah-tengah semakin relevans lagi jika komunitas media terbelah ke dalam dua kubu dalam memandang pasangan capres/cawapres.

Mengutip Bill Kovach (2001) media cukup memberikan apa yang publik butuhkan untuk menemukan kebenaran bagi diri mereka sendiri. Publik perlu didorong untuk menentukan  pilihan politiknya sendiri. Yang perlu dilakukan media  adalah membuka ruang publik selebar-lebarnya dan sejujur mungkin, dimana semua orang bisa mendapatkan informasi yang akurat dan memadahi tentang kedua pasangan capres/cawapres, berikut orang-orang di sekitarnya. Tantangan bagi media adalah bagaimana memfasilitasi publik untuk membuat penilaian yang mandiri tentang  akuntabilitas kedua pasangan capres/cawapres, tanpa terjebak pada sikap yang partisan.

 

Penulis : Agus Sudibyo, Peneliti dari ISAI dan Koordinator Koalisi Untuk Kebebasan Informasi.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: