Oleh: Agus Sudibyo | Maret 28, 2008

Media, Tragedi Kemanusiaan dan Solidaritas Sosial

Oleh: Agus Sudibyo

Hampir selalu dipahami televisi masuk ke ruang-ruang pribadi dengan sejumlah efek negatif. Melalui berbagai tayangannya, televisi adalah “tamu tak diundang” yang datang untuk menajamkan simtom-simtom kekerasan pada anak-anak, membangkitkan agresivitas kaum remaja, membangkitkan perilaku hedonis, serta menyebarkan virus-virus konsumerisme pada kalangan ibu rumah-tangga.

Namun sebenarnya bukan hanya kecenderungan negatif itu yang bisa digerakkan oleh media televisi. Potensi yang bisa dikembangkan oleh televisi sesungguhnya sama kompleksnya dengan potensi-potensi yang ada pada setiap individu. Televisi bisa mengoptimalkan potensi intersubyektivitas sekaligus potensi antarsubyektivitas manusia. Televisi bukan hanya bisa mempertajamkan aspek individualitas manusia, namun juga aspek sosialitasnya. Televisi mampu membangkitkan sikap-sikap egois-hedonis, sekaligus sikap-sikap altruis, yang mewujudkan dalam kepedulian terhadap kondisi orang lain. Eksposure media televisi terhadap korban-korban bencana Tsunami yang terjadi beberapa saat yang lalu bisa menjadi contoh menarik dalam hal ini.

* * *

Dalam kesedihan yang begitu mendalam karena ratusan ribu orang tewas karena amuk Tsunami, ada sesuatu yang membanggakan kita sebagai bangsa dan sebagai umat manusia. Solidaritas yang ditunjukkan segenap masyarakat, dari Medan sampai Merauke, dari tukang becak hingga para selebritis terhadap saudara-saudara kita di Aceh, sungguh mengharukan. Indonesia yang begitu luas dan kompleks, tiba-tiba saja menjadi seperti “rukun tetangga” yang begitu guyup dan hangat. Semua orang melupakan jarak dan segala sakwa-sangka yang pernah ada, larut dalam semangat persaudaraan.

Solidaritas dunia internasional juga bisa dikatakan luar biasa. Bencana Tsunami yang melanda beberapa negara Asia ini memecahkan rekor besarnya dana kemanusiaan yang pernah disumbangkan oleh PBB dan negara-negara Barat. Dunia yang semula begitu kusut oleh konflik dan perbedaan itu, tiba-tiba saja menjelma menjadi “sebuah desa” yang menyatu dalam semangat kebersamaan dan solidaritas.

Bisakah kita membayangkan solidaritas yang begitu besar dan spontan itu terbangun tanpa peran media massa? Media tentu bukan satu-satunya faktor dalam hal ini. Bahkan banyak yang mengritik sensibilitas media terhadap bencana yang terjadi. Skala bencana yang terjadi lebih menjelaskan munculnya solidaritas yang luar biasa itu. Inilah salah-satu bencana alam dengan jumlah korban dan kerugian terbesar dalam sejarah peradaban modern.

Namun sulit untuk menyangkal bahwa media menjadi faktor determinan dalam membangkitkan dan menyebarluaskan solidaritas itu. Sulit membayangkan arus informasi tentang bencana itu bisa menyebar keseluruh pelosok bumi dan mengusik perhatian dunia internasional tanpa peran media. Meminjam istilah Neil Postman, kita hidup dijaman di mana hampir semua yang kita konsumsi sebagai “berita hari ini” adalah peristiwa media : peristiwa yang ditangkap, direproduksi dan disajikan kembali oleh media. Dengan kecepatannya dalam menyebarluaskan informasi yang begitu tinggi, media massa memungkinkan kisah-kisah pilu dari Aceh, Kepulauan Andaman dan Nicobar India, Pantai Phuket Thailand dan pesisir Srilanka itu menjadi “berita hari ini” bagi masyarakat yang beribu-ribu kilometer jauhnya dari lokasi-lokasi tersebut.

Ketergantungan masyarakat yang begitu tinggi terhadap informasi media juga bisa dilihat di dalam negeri. Ketika kinerja pemerintah begitu lamban dalam menangani bencana itu, ketika sumber-sumber resmi tidak bisa diharapkan untuk memasok informasi, media massa praktis menjadi satu-satunya saluran informasi yang diandalkan masyarakat untuk mengikuti perkembangan yang terjadi di Aceh dan sekitarnya.

Bencana Tsunami itu kemudian meningkat statusnya dari sekedar “berita hari ini” menjadi “problem kita hari ini”. Hal ini terjadi setelah kita terus-menerus dibombardir dengan berita-berita soal bencana itu setiap saat membuka halaman koran dan majalah, memencet tombol remoute control televisi, mengakses internet atau ketika membuka sms dari teman. Proses personalisasi itu juga terjadi karena fakta-fakta tidak ditampilkan apa adanya oleh media, melainkan direproduksi, dipertajam di sana-sini dan dibumbuhi dengan dramatisasi pada bagian tertentu. Kita bukan hanya disuguhi informasi, namun juga dipersuasi, bahkan diprovokasi media untuk berbuat sesuatu.

Sekedar contoh, sebuah stasiun televisi berpuluh-puluh kali menayangkan ulang rekaman video amatir yang menggambarkan dahsyatnya air bah yang melanda Banda Aceh. Dari sisi aktualitas dan kreativitas berita, kita bisa mempertanyakan praktek semacam ini. Namun harus diakui proses dramatisasi semacam ini cukup efektif untuk mengharu-biru perasaan pemirsa, mengusik moralitasnya sebagai manusia, hingga pada gilirannya pemirsa memutuskan untuk tidak sekedar berdiam diri.

Sejauh ini kita selalu terganggu oleh berita-berita kriminalitas di televisi yang penuh “darah dan mayat”. Visualisasi semacam ini, bahkan lebih vulgar lagi muncul dalam berita-berita tentang korban Tsunami. Uniknya, kita seperti tak bosan-bosan menyaksikan tayangan “darah dan mayat” itu. Dan yang pertama-tama muncul bukan rasa jengah atau jijik, melainkan perasaan sedih dan iba.

Kita senantiasa terbiasa dengan diskursus tentang paradoks dan dilema-dilema yang melekat pada teknologi informasi sebagai produk sistem kapitalisme modern. Namun seperti tampak dalam kasus bencana Tsunami itu, kemajuan teknologi informasi itu juga berpotensi untuk mendorong terciptanya masyarakat yang lebih peduli terhadap sesama, terciptanya dunia yang lebih beradab. Tentu saja masih dibutuhkan bukti-bukti yang lain.

* * *

Apa yang dilakukan media massa kemudian melampaui fungsi penyebaran informasi. Bagaikan seorang pendakwah, media menyerukan pemirsa untuk membantu para korban. Media berada di depan dalam mengoordinir pengumpulan sumbangan dan bantuan tersebut. Bahkan ada media yang lebih menggebu-gebu lagi, mereka berinisiatif mengoordinir pemberangkatan sukarelawan ke daerah bencana. Begitu luar biasa peran media kita!

Yang menjadi pertanyaan adalah sejauhmana energi media dalam memantau masalah-masalah di seputar bencana Tsunami itu. Media kita sering tidak cukup konsistensi dalam mewacanakan persoalan-persoalan publik. Mereka mudah jatuh cinta pada obyek liputan, sekaligus mudah pula melupakannya. Pemberitaan media terhadap status darurat militer/darurat sipil di Aceh beberapa saat lalu bisa menjadi contoh di sini. Sejak Juni 2003, secara perlahan-lahan media massa mulai mengendorkan perhatiannya terhadap konflik Aceh. Isu Aceh segera tergusur oleh isu-isu baru. Padahal perang masih berkecamuk, kekerasan masih terus berlangsung, dan korban masih terus berjatuhan. Dan masyarakat tidak mempunyai saluran informasi lain untuk mengetahui perkembangan konflik di sana.

Konsistensi media sangat dibutuhkan dalam mengawal proses recovery pasca bencana, serta proses penyelenggaraan kekuasaan yang akan jauh lebih rumit karena begitu banyak pihak yang terlibat. Untuk itu, media harus bisa merumuskan agenda dan skala prioritas berkaitan kompleksitas masalah yang muncul. Yang perlu dihindari di sini adalah kesan bahwa pemberitaan media mengalir begitu saja, tanpa kesimpulan, tanpa solusi. Satu isu akan segera tertutup oleh isu lain, sehingga publik tidak tahu masalah mana yang benar-benar penting dan urgens.

* * *

Penulis : Agus Sudibyo, Peneliti Media, pernah menjadi Koordinator Program Aceh News Watch ISAI.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: