Oleh: Agus Sudibyo | Maret 28, 2008

Mengenang Ersa Siregar, Memetik Hikmah

 

Oleh: Agus Sudibyo

Setelah berbulan-bulan dalam perjuangan antara hidup dan mati, Ersa Siregar akhirnya meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Kabar buruk ini melengkapi masa suram kebebasan pers di Indonesia beberapa saat terakhir. Setelah dihadapkan pada serangkaian kasus gugatan terhadap institusi penerbitan pers beserta aksi-aksi premanisme yang mengikutinya, setelah dihadapkan pada isu revisi UU Pers dengan semangat untuk mengembalikan pers dibawah kontrol negara, kini seorang jurnalis tewas di medan perang Aceh.

Perang memang sesuatu yang rumit. Koresponden perang  dalam banyak kasus memang terpaksa harus berpikir bagaimana menyelamatkan dirinya sendiri. Hampir selalu tak ada jaminan bahwa pihak-pihak yang bertikai akan menaati konvensi internasional tentang perlindungan jurnalis dalam meliput perang. Bukan hanya dalam perang Aceh, namun juga pada perang Irak, perang di Balkan, Vietnam dan lain-lain, koresponden perang senantiasa dihadapkan pada pilihan antara hidup dan mati. Moralitas dan integritaslah yang akhirnya berbicara. Kompleksitas perang sering membuat para jurnalis menjadi pragmatis, meliput perang dari jalur yang paling aman, katakanlah dengan bersandar pada saluran media centre atau mekanisme embedded yang disediakan salah-satu pihak. Keberimbangan dan proporsional tak lagi menjadi prioritas karena yang lebih penting adalah bagaimana secara kontinyu menyajikan informasi tentang perang kepada publik.

Di sinilah orang seperti Ersa Siregar tampaknya tak mau tunduk. Membangun akses ke kedua belah pihak yang bertikai baginya tetap menjadi suatu keharusan. Embedded journalisme mungkin tetap perlu dilakukan oleh sebuah tim liputan, tapi itu bukan satu-satunya sumber untuk merekonstruksi perang. Dalam konflik seperti di Aceh, dimana saluran informasi ke luar hampir sepenuhnya dikuasai oleh pihak Indonesia, akses ke kelompok GAM memang sangat mahal dan penuh resiko. Bukan pekerjaan mudah untuk meyakinkan GAM agar mereka mau diwawancarai dan memberikan keterangan. Kredibilitas dan pengalaman seorang jurnalis senior banyak menentukan dalam hal ini sehingga muncul trust pihak GAM terhadap beberapa jurnalis, termasuk  Ersa Siregar. Namun ketika akses itu terbangun, ada resiko lain yang harus ditanggung oleh Ersa. Ia bisa dicurigai atau diidentifikasi sebagai pendukung, simpatisan atau alat propaganda GAM. Sebaliknya, ia juga bisa dicurigai sebagai mata-mata TNI.

Inilah dilema seorang jurnalis perang. Dilema yang lain adalah dilema nasionalisme. Liputan media AS tentang perang Irak (1991 & 2003) misalnya, dengan jelas menunjukkan bahwa kebebasan pers di negeri Paman Sam ternyata hanya berlaku diluar isu-isu nasionalisme. Jika rasa kebangsaan  telah tersentuh, mereka notabene akan berbicara dalam perspektif kepentingan Amerika, national-security dan seterusnya. Inilah salah-satu paradoks terbesar dalam sejarah pers Amerika, yang semakin meredupkan pamor mereka sebagai kiblat demokrasi, kiblat kebebasan pers. Nasionalisme pada kasus lain juga membuat para jurnalis dalam Perang di Balkan tercerai-berai oleh sensibilitas sebagai orang Serbia, orang Kroasia dan orang Bosnia. Nasionalisme membuat mereka lalai terhadap jati-diri sebagai jurnalis dengan segala konsekuensi profesional dan idealistiknya.

Dalam kasus Aceh, diskursus tentang nasionalisme itu dengan sadar didengungkan oleh pemerintah. Ketika perang sedang berkecamuk di Serambi Mekah, muncul harapan-harapan yang mengusik konsentrasi komunitas pers dalam menjalankan kerja-kerja jurnalistik. Pers diharapkan bisa bekerjasama dengan TNI dalam meliput konflik Aceh dan turut membantu Pemerintah untuk “menyelesaikan permasalahan Aceh” sesegera mungkin. Pers juga dihimbau untuk memberitakan konflik di Aceh dengan semangat nasionalisme. Sebuah seminar bahkan telah diselenggarakan Lembaga Informasi Nasional (LIN)  untuk membahas peranan Pers dalam “nation and character building” 29 Mei 2003.

Diskursus tentang nasionalisme yang sengaja dihembuskan oleh pemerintah/TNI sedikit-banyak mempengaruhi persepsi publik tentang Aceh. Tanggapan-tanggapan masyarakat sebagaimana muncul dalam surat pembaca dan talkshow media menunjukkan bahwa rasa nasionalisme itu berhasil dibangkitkan dalam melihat persoalan Aceh. Tanpa terkecuali, propaganda pemerintah itu juga mempengaruhi cara-pandang kalangan media dan bagaimana mereka mengonstruksi realitas-realitas Aceh.

Sayang, Ersa keburu meninggal sebelum sempat membuktikan bahwa ia bekerja bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk menjadi bagi publik untuk mengetahui realitas penyelenggaraan kekuasaan di Aceh. Menjadi jendela bagi publik untuk mengetahui realitas-realitas perang yang sesungguhnya di medan perang. Bahwa yang menyemangatinya bukanlah sebuah nasionalisme yang sempit, atau simphati kepada korban yang meletup-letup, melainkan sekedar upaya untuk menjalankan sebuah profesi secara benar dan profesional.

Terlepas dari kelemahannya sebagai manusia, mungkin yang dilakukan Ersa adalah pengorbanan tertinggi sebagai seorang jurnalis, yakni mati ketika menjalankan/ dan sebagai konsekuensi dari tugas-tugas jurnalistik. Ersa pada akhirnya memberi pelajaran bahwa profesi jurnalis bukan profesi sembarangan. Untuk memperjuangkan integritas profesi, nyawa bahkan menjadi taruhan. Dalam hal ini, kita memang harus menerima kenyataan, bahwa Indonesia hari ini adalah sebuah kondisi di mana hukum sering tak bermakna apa-apa, senjata menjadi panglima, dan kekerasan demi kekerasan terus dihalalkan sebagai cara penyelesaian masalah. Maka apa yang terjadi pada Ersa, sebagaimana juga telah terjadi pada Udin, sangat mungkin akan menimpa para jurnalis yang lain. Bukan hanya pada momentum perang, namun juga pada peristiwa-peristiwa yang lain. Kecuali jika integritas dan profesionalisme telah sepenuhnya tunduk dengan diktum kekerasan dan premanisme.

Kematian Ersa, mungkin akan dilihat sebagai peristiwa yang biasa. Toh hampir setiap minggu korban sipil berjatuhan di Aceh. Kematian Ersa juga akan semakin lama semakin bisa dipahami sebagai kecelakaaan biasa. Namun persoalannya Ersa mati sebagai seorang jurnalis yang seharusnya dilindungi oleh pihak-pihak yang bertikai. Kematian Ersa jelas akan didengar oleh dunia luar, dan konsekuensi lebih lanjut akan menimbulkan sejumlah pertanyaan dan keraguan tentang praktek demokrasi di Indonesia. Kita akan dikenal sebagai salah-satu negara yang tidak dapat memberikan perlindungan memadahi terhadap praktek-praktek kebebasan pers dan kebebasan berekspresi.

Dari sisi HAM, kematian Ersa, sebagaimana juga kematian setiap orang-orang Aceh yang tak berdosa, semestinya menjadi cermin bagi pemerintah Indoensia untuk meninjau kembali kebijakan-kebijakan yang diambil untuk menyelesaikan konflik di Aceh. Apa benar perang bisa menyelesaikan masalah? Apakah benar tidak ada cara lain yang lebih baik? Klaim TNI bahwa darurat militer akan bisa diselesaikan dalam waktu enam bulan sama sekali tidak terbukti. Perang masih terus berkecamuk, GAM masih melakukan perlawanan, dan kekerasan demi kekerasan terus menerus terjadi.

Yang sudah terbukti adalah perang hanya menimbulkan bencana perikemanusiaan, perang hanya semakin menyusahkan rakyat Aceh yang sudah menderita trauma berkepanjangan akibat pemberlakuan DOM semasa Orde Baru. Dengan meninggalnya Ersa, terbukti pula bahwa perang Aceh juga menunjukkan bahwa kita sebagai bangsa ternyata belum memiliki apresiasi dan penghargaan yang memadahi terhadap pentingnya perlindungan bagi kebebasan pers. Satu-satunya pilar demokratisasi yang masih tegak berdiri di Indonesia saat ini.

 

Agus Sudibyo, Peneliti ISAI Jakarta, Koordinator Loby Koalisi Untuk Kebebasan Informasi.


Responses

  1. slamat siang Mas Agus….
    saya senang dengan artikel anda tentang Mas Ersa siregar dan fery santoro. mereka menjadi pahlawan bagi saya. saya ingat sekali mimpi mas siregar ketika dalam mimpi dia minta tolong kepda saya. Mas agus mau ga kita sama2 tolong mas ersa kita jadikan mas ersa dan mas fery sebagai super hero pers indonesia? saya ada ide film mas agus. tolong saya ya…..demi mas ersa dan insan pers indonesia.
    saya ingin membuat sesuatu untuk mas ersa di hari 29 desember nanti gmn mas…?

  2. mas Conady, mau tau dong kalo emang ada filmnya. saya juga kepingin kalo boleh ikut bikin. heee..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: