Oleh: Agus Sudibyo | Maret 28, 2008

SBY dan Independensi Massa Pemilih

 

Oleh: Agus Sudibyo

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hampir dapat dipastikan memenangkan pemilihan presiden (pilpres) tahap kedua. Meskipun berbagai jajak-pendapat sudah memprediksikannya, kemenangan ini tetap menarik untuk diperbincangkan. SBY adalah kandidat presiden dari partai baru yang relatif kecil, hanya menduduki urutan lima pada pemilu legislatif April 2004. SBY juga harus bertarung dengan kandidat lain yang masih presiden aktif dengan berbagai privilese-nya. Kemenangan SBY semakin istimewa lagi karena menjelang pilpres ke dua, sejumlah elit politik dari lintas partai (PDIP, Golkar, PPP, PBR dan lain-lain) menghimpun diri dalam wadah Koalisi Kebangsaan dan menggalang dukungan untuk calon presiden Megawati Soekarnoputri.

Ada banyak penjelasan tentang kemenangan SBY. Dari sisi kultur politik, bisa dijelaskan bahwa hingga saat ini, kita sebelumnya belum beranjak menuju masyarakat yang rasional dan kosmopolit. Pilihan politik masa pemilih dalam pemilu  masih banyak diwarnai pertimbangan-pertimbangan yang irasional dan konservatif. Prasangka-prasangka gender misalnya, masih cukup dominan mempengaruhi pilihan politik masyarakat bawah.  Masih banyak  kelompok yang belum menerima sepenuhnya keberadaan pemimpin perempuan. Jika pun mereka terpaksa menerima pemimpin perempuan, dengan catatan sama sekali tidak ada calon pemimpin laki-laki yang lebih baik. Domestifikasi peran perempuan dan pandangan-pandangan patriarkhis masih sangat dominan dalam kehidupan politik kita hingga saat ini. Dalam konteks ini, SBY sebagai kandidat presiden laki-laki lebih diuntungkan  daripada Megawati.

Di sisi lain, SBY memenuhi harapan alam bawah sadar masyarakat Indonesia pada umumnya tentang figur pemimpin yang kebapakan, kharismatik, berwibawa dan “mengayomi”. Harapan yang sama juga terjadi  terhadap sosok Bung Karno pada masa revolusi kemerdekaan, atau terhadap Soeharto pada awal-awal Orde Baru. Inilah irasionalitas lain dalam perilaku politik masyarakat bawah yang bertahan hingga saat ini. Dan ketika irasionalitas itu bekerja, publik tidak kritis lagi terhadap track reccord dan kapasitas calon pemimpin. Publik lebih mudah terkesimak oleh image, kharisma dan pesona pribadi daripada kualifikasi-kualifikasi yang lebih rasional dan .

SBY tampak menyadari benar realitas psikologis ini. Dia selalu berhasil mencitrakan diri sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat dan mampu menjalin komunikasi politik dengan berbagai pihak. SBY selalu bicara dengan sangat hati-hati, terukur dan tidak reaktif. SBY juga cenderung menghindari konflik dengan berbagai pihak. Dalam konteks ini pula media massa cenderung menempatkan SBY sebagai kontras dari presiden Megawati. SBY yang terbuka dan inteleks dibandingkan dengan Megawati yang  tertutup dan pendiam. SBY yang tenang dan terukur dibandingkan dengan Megawati yang belakangan sering emosional dan reaktif. Perbandingan yang tidak sepenuhnya fair, namun telah menempatkan SBY sebagai simbol kekecewaan terhadap Megawati dalam menjalankan agenda-agenda reformasi. Meskipun belum terbukti benar SBY mampu menjalankan agenda-agenda tersebut.

*      *      *

Namun fakta yang paling mengejutkan dalam pilpres kedua adalah bahwa massa pemilih semakin independen dalam menentukan sikapnya. Mereka dapat menentukan pilihan politiknya berbeda dengan yang digariskan partai politik. Sebuah perkembangan menarik di mana pilihan politik tidak bisa lagi secara semena-mena ditentukan oleh elit partai. Otoritas parpol terbukti tidak efektif untuk memaksakan keputusan politik yang bersifat arbriter dan top down. Bahkan ketika parpol-parpol itu menggabungkan diri dalam koalisi antar parpol, tetap tidak memadahi untuk memobilisasi suara pemilih untuk calon presiden tertentu.

Sebuah era baru tampaknya telah lahir, di mana independensi massa pemilih akan menjadi bagian dominan dari proses-proses pemilu. Era baru itu sebenarnya telah dimulai ketika DPR menyetujui klausul pemilihan presiden dalam UU Pilpres yang baru. Memang, calon presiden/wapres masih dipilih oleh parpol, namun apa yang terjadi selanjutnya semakin sulit dikontrol melalui “garis komando” parpol.

Menariknya, elit parpol masih berpikir bahwa parpol adalah mesin politik yang efektif untuk memobilisasi suara. Elit partai juga mempertahankan sikap yang elitis dan  feodal. Gaya-gaya kepemimpinan yang oligarkhis, di mana berbagai keputusan dan kesepakatan politik ditetapkan secara terbatas di kalangan elit parpol (inter dan antar parpol) juga masih dipertahankan. Partisipasi publik secara umum masih diabaikan dalam mekanisme pengambilan keputusan hampir semua parpol.

Padahal tanpa perubahan sistem pemilihan presiden pun, loyalitas publik  terhadap parpol juga niscaya akan memudar. Kita tentu masih ingat kasus-kasus perselisihan antara pengurus parpol di tingkat pusat dan daerah dalam proses penyusunan calon legislatif atau dalam proses pemilihan kepala daerah. Pengurus pusat  memaksakan calonnya sendiri dengan mengabaikan aspirasi dari bawah. Peristiwa ini terjadi di hampir semua partai besar. Massa pendukung  juga banyak kecewa terhadap kinerja para pemimpinnya di lembaga eksekutif maupun legislatif.. Kekecewaan massa pendukung PDIP terhadap ketidakmampuan Megawati dalam mengungkap Peristiwa 27 Juli menjadi contoh nyata, demikian juga dengan kekecewaan para pendukung Golkar terhadap “keterlibatan” Akbar Tanjung dalam kasus Bulog II.

Pemilihan presiden kali ini, benar-benar menjadi momentum bagi massa pemilih untuk memberi pelajaran kepada elit parpol. Bahwa mereka tidak dapat seterusnya secara semena-mena memaksakan kehendaknya, bahwa parpol bukan segala-galanya bagi masyarakat akar rumput. Kekalahan Wiranto dan Salahudin Wahid yang didukung 2 parpol besar (Golkar/PKB) pada pilpres tahap pertama mestinya menjadi pelajaran berharga bagi para elit politik. Namun mereka masih saja bertahan dengan perilaku politiknya yang oligarkhis dan elitis, dengan mengabaikan realitas politik di tingkat akar rumput yang berkembang dinamis.

 

Penulis : Agus Sudibyo, Peneliti ISAI, Koordinator Koalisi Untuk Kebebasan Informasi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: