Oleh: Agus Sudibyo | Mei 30, 2008

Dasar Konstitusinya Lemah, RUU Rahasia Negara Lebih Baik Dibatalkan

Senin, 26 Mei 2008 | 00:31 WIB

Jakarta, Kompas – Rancangan Undang-Undang atau RUU tentang Rahasia Negara, yang dalam waktu dekat akan dibahas antara Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat dan Departemen Pertahanan, dinilai tak memiliki dasar konstitusi yang kuat. Karena itu, lebih baik RUU itu dibatalkan pembahasannya sejak awal.

Demikian dikatakan Agus Sudibyo dari Aliansi Masyarakat Menolak Rezim Kerahasiaan di Jakarta, Minggu (25/5). Dasar konstitusi yang dipakai pemerintah selama ini, Pasal 28 Huruf (f) Undang-Undang Dasar 1945, bertujuan sebaliknya.

”Pasal itu tak bisa dipakai untuk menjustifikasi penyusunan RUU Rahasia Negara karena justru bermaksud melindungi dan memperluas hak publik atas informasi serta membatasi masalah kerahasiaan negara. Jadi, ada kesalahan logika kalau pasal itu mau dipakai,” ujar Agus.

Tindakan seperti itu, menurut Agus, terjadi karena Departemen Pertahanan tidak berhasil menemukan justifikasi hukum dan konstitusi yang kuat untuk mendukung keberadaan RUU Rahasia Negara yang mereka susun.

Kesalahan juga terjadi dalam argumen pemerintah yang menyatakan kerangka hukum yang ada masih sangat lemah dalam melindungi rahasia negara. Padahal, dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), menurut Agus, setidaknya terdapat 10 pasal terkait isu itu.

”Tambahan lagi, UU KIP (Keterbukaan Informasi Publik) sebenarnya cukup komprehensif. Jalankan saja UU KIP itu. Semua pertimbangan itu akan kami sampaikan ke Komisi I DPR, Senin ini, dalam Rapat Dengar Pendapat Umum tentang RUU Rahasia Negara. Kami minta draf RUU itu didrop saja,” ujar Agus.

Ia juga menilai, alasan untuk tetap meneruskan proses pembahasan RUU Rahasia Negara lantaran hal itu diagendakan dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun 2008 adalah mengada-ada. Jauh lebih baik jika draf itu dikembalikan ke tujuan semula, membentuk aturan UU tentang Persandian Negara.

Pembatalan RUU itu, menurut Agus, tetap dimungkinkan, terutama jika masyarakat menilai keberadaan RUU Rahasia Negara membahayakan prinsip dan kehidupan berdemokrasi di masa mendatang.

Doktrin margin apresiasi

Secara terpisah, praktisi hukum Abdul Hakim Garuda Nusantara melihat RUU Rahasia Negara sebagai bentuk upaya ”penyelundupan hukum” oleh pemerintah, yang pada prinsipnya melanggar konstitusi dan mengancam kebebasan pers.

Upaya seperti itu dinilai Abdul Hakim sebagai sikap pemerintah yang tidak jujur dan tidak transparan.

Menurut dia, kebebasan pers yang menjamin kebebasan setiap orang untuk berekspresi, mencari, memperoleh, menyimpan, mengolah, dan menyebarluaskan informasi akan sangat terancam dengan RUU Rahasia Negara itu.

Padahal, selain sudah dijamin dengan UU Pers, kebebasan itu juga dijamin dalam konstitusi Pasal 28 Butir (e) dan (f). Meski begitu, diakui keberadaan hak asasi terkait semua kebebasan tadi tidak termasuk dalam hak yang bersifat nonderogable (tidak dapat dikurangi).

”Artinya, pemerintah atau negara dibolehkan mengatur dan membatasi hak itu, misalnya terkait alasan moral dan ketertiban. Hal itu diistilahkan dengan doktrin margin apresiasi. Tetapi, doktrin itu mensyaratkan keterbukaan dan transparansi pemerintah,” ujar Abdul Hakim.

Hal itu berarti, jika ingin membatasi kebebasan pers, pemerintah harus menjelaskannya terlebih dahulu secara transparan kepada masyarakat. Jika tidak, hal itu sama artinya pemerintah mencoba menyelundupkan produk hukum tertentu dengan menyalahgunakan doktrin margin apresiasi.

Dari draf RUU Rahasia Negara yang diperoleh Kompas diketahui, RUU itu terdiri dari 9 bab dan 45 pasal. Itu berarti, hanya terjadi pengurangan satu pasal dari draf RUU sebelumnya, versi Mei 2006, yang dinilai terdapat banyak pasal karetnya. (dwa)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/05/26/00313022/dasar.konstitusinya.lemah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: