Oleh: Agus Sudibyo | Juni 3, 2008

“Rating” Kualitatif Segera Dijalankan

Kompas, 26 Agustus 2007

Semakin buruknya kualitas siaran televisi yang kini terlalu mengutamakan sistem rating dan share sebagai satu-satunya patokan membuat sekelompok masyarakat akan membuat sistem rating alternatif. Sistem yang diharapkan melengkapi sistem rating yang sudah ada itu disebut rating publik.

“Dengan semakin besarnya pengaruh TV terhadap kehidupan masyarakat, harusnya

ada banyak alternatif sistem rating. Masyarakat berhak menguji kualitas tayangan TV dan mendapatkan acara TV yang layak,” ujar Direktur SET Foundation Garin Nugroho yang memprakarsai sistem rating publik tersebut dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (23/8).

Rating publik merupakan sebuah sistem rating kualitatif yang diselenggarakan oleh Yayasan SET bekerja sama dengan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI). Selama ini, sistem rating yang dijadikan panutan industri pertelevisian adalah rating kuantitatif yang dibuat oleh lembaga survei AGB Nielsen.

Metode yang digunakan dalam rating publik adalah peer review assessment, yakni meminta penilaian dari sekelompok orang yang kompeten. Nantinya akan dilakukan survei dan wawancara terhadap 560 orang berkompeten dari berbagai latar belakang yang tersebar di 14 kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Medan, Bandung, Semarang, Surabaya, Jayapura, Makassar, Pontianak, Denpasar, Banjarmasin, Kendari, Batam, Banda Aceh, dan Manado.

Sampel responden tersebut akan menilai 70 acara TV yang dibagi dalam tujuh kategori, yakni kategori acara anak-anak, film/sinetron, informasi/berita, hiburan, infotainment, variety show, dan olahraga. Masing-masing kategori berisi 10 acara yang jumlah penontonnya terbanyak berdasarkan survei rating yang selama ini ada. (*/DHF)

Iklan

Responses

  1. Dear Mas Agus, two thumbs up buat idea ini….saya sangat mendukung….dengan adanya hasil pembanding terhadap data Nielsen, namun jika hasil2 ini tidak more exposure di publikasikan industri TV dan Periklanan menjadi tidak terkontaminasi dengan adanya temuan2 seperti ini, karena sudah terlalu lama industri TV dan periklanan di Indonesia ini ter driven oleh Nielsen, sehingga untuk mengubah paradigma pengiklan dan pandangan masyarakat perlu di bombardir secara massal di media massa agar terbuka hati nurani dan menjadi tanggung jawab moral para pelaku business media terhadap generasi penerus bangsa ini

    teruskan perjuangan mu ya Mas

    Kindness regard

    isman (wong kecil)

  2. Yth mas agung, minta tolong bagaimana kuesioner yang digunakan untuk mendapatkan datanya mas? kebetulan saya adalah mahasiswa ilmu komunikasi

    terimakasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: