Oleh: Agus Sudibyo | Juni 3, 2008

Rating Publik, Upaya Mengukur Program secara Kualitatif

Suara Pembaruan, 27 Agustus 2007

Selama bertahun-tahun, rating merupakan satu-satunya parameter yang digunakan seluruh stasiun televisi untuk mengukur kesuksesan program-program mereka. Jika rating sebuah program jelek, hasilnya akan berdampak buruk pula. Bisa dipastikan, para pemasang iklan enggan berpromosi di slot tayang program tersebut. Pengelola stasiun televisi pun akan menghentikan tayangnya program tadi secara sepihak.

Namun, rating yang dibuat oleh lembaga survei AGB Nielsen ini hanya mengukur sebuah program dari sisi penonton secara kuantitatif belaka, yang terdiri dari elemen jumlah orang yang menonton pada satu masa tertentu, dari kalangan apa, berjenis kelamin apa, dan sebagainya. Belum ada survey rating yang mampu mendeskripsikan, kenapa seorang penonton menyukai program tersebut, beserta alasan-alasan yang bersifat kualitatif.

Itulah yang coba ditawarkan Garin Nugroho. Bersama Yayasan SET (Sains, Estetika, dan Teknologi) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), sineas kondang ini berupaya membuat format pemeringkatan baru dalam dunia pertelevisian. Mereka memelopori sebuah gerakan masyarakat untuk memantau kinerja televisi melalui kegiatan rating publik. Program yang melibatkan 560 orang kelompok terpelajar di 14 kota ini mencoba mengukur kesuksesan sebuah program dari sisi kualitasnya, tak melulu kuantitasnya.

“Langkah ini kami lakukan dengan dilatarbelakangi kegelisahan masyarakat tentang banyaknya tayangan televisi yang tidak berkualitas dan adanya dominasi pemeringkatan program televisi oleh satu-dua lembaga saja. Kehadiran Rating Publik perlu untuk menilai kualitas dan kelayakan program itu bagi masyarakat, menjadi bahan masukan bagi media untuk meningkatkan kinerja, dan menjadi alternatif pemeringkatan acara televisi,” jelas Garin dalam sebuah jumpa pers, di Jakarta, Kamis (23/8).

Namun ia menolak jika disebut ingin menyaingi lembaga rating lainnya. Menurutnya, Rating Publik ini berupaya menjadikan televisi sebagai sahabat keluarga Indonesia. Televisi merupakan sebuah mimbar keluarga. Seluruh masyarakat dan sistemnya selalu dipengaruhi televisi. Oleh karena itu, diperlukan kode etik tersendiri untuk menjadikan televisi sebuah alat yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat.

Pemeringkatan akan dilakukan empat bulan sekali setiap tahun dan hasilnya akan diumumkan kepada masyarakat penyiaran dan publik. 560 orang yang dilibatkan dalam survey ini berasal dari berbagai latar belakang profesi. Mulai dari dosen atau guru, aktivis LSM, jurnalis, kalangan profesional hingga para pemuka masyarakat.

“Yang akan kita ukur adalah kualitasnya, sehingga kelompok terpelajar yang dipilih karena dipandang mengetahui mengenai televisi dan bisa menilai secara kritis program-program televisi,” ujar sutradara Opera Jawa ini.

Lebih lanjut lagi, sistem Rating Publik kemudian dijelaskan oleh Fransiskus Surdiasis, anggota tim Rating Publik. Menurutnya, pemeringkatan ini dilakukan melalui mekanisme Peer Review Assessment. Melalui metode survei panel, panitia akan mengumpulkan secara reguler pendapat para responden tentang kualitas tayangan program-program televisi.

Penilaian kualitas didasarkan pada nilai-nilai keutamaan publik yang diemban oleh media penyiaran. Ada tiga aspek kualitas yang akan dinilai untuk masing-masing program yakni aspek Edukasi, Kepeloporan, dan Patologi Sosial. “Untuk masing-masing aspek itu, responden diminta memberi nilai skor antara 1-7,” tambah Frans.

Diharapkan, hadirnya Rating Publik bisa membuat pihak-pihak pengelola stasiun televisi lebih memperhatikan fungsi dan dampak yang ditimbulkan program yang mereka tayangkan. Menurut Garin, sudah saatnya televisi dikembalikan sebagai sebuah institusi sosial, bukan melulu sebagai sebuah institusi ekonomi.

“Usia stasiun televisi kita tidak muda lagi. Beberapa justru sudah ada yang berusia di atas 17 tahun, jadi ibaratnya, sudah menginjak remaja. Oleh karena itu, dalam program-programnya juga harus lebih baik dan berkualitas,” kata Garin.

Kegiatan Rating Publik akan digelar di 14 wilayah yakni DKI Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Makassar, Palembang, Denpasar, Pontianak, Kendari, Jayapura, Banjarmasin, dan Manado. Rencananya, pengumuman hasil Rating Publik akan digelar dalam sebuah ajang penghargaan, baik untuk program-program yang dinilai positif, atau justru sebaliknya. [D-10]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: