Oleh: Agus Sudibyo | Juni 6, 2008

RUU Rahasia Negara Diusulkan Kembali ke Draf Awal

Kamis, 05 Jun 2008 | 20:44 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Rancangan Undang-undang Rahasia Negara yang diperbaiki Departemen Pertahanan diusulkan dikembalikan ke draf awal rancangan seperti yang tercatat di Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat periode 1999-2004. Dalam rancangan itu, kerahahasian negara bertujuan untuk mengamankan informasi, bukan membatasi informasi. “RUU itu berubah dari draf awalnya,” kata mantan anggota Komisi I periode 1999-2004 Paulus Widiyanto dalam diskusi mengenai RUU Rahasia Negara di kantor Dewan Pers, Kamis (5/6).

Dewan telah mengembalikan draf Rancangan Undang-undang Rahasia Negara yang disodorkan pemerintah. Pemerintah bersedia memperbaiki draf rancangan dalam waktu tiga bulan. Setelah diperbaiki Dewan dan pemerintah melanjutkan pembahasan rancangan rahasia negara. Pemerintah melalui Departemen Pertahanan menyatakan tak akan melibatkan publik dalam perbaikan rancangan itu.

Menurut Paulus, semula rancangan rahasia negara berawal dari ide Dewan membuat Undang-undang Persandian Negara. Undang-undang itu, kata Paulus, dibutuhkan sebagai payung hukum bagi Lembaga Sandi Negara untuk mengamankan informasi dan komunikasi. RUU Rahasia Negara, kata dia, adalah perluasan dari ide Undang-undang Persandian Negara. Dalam naskah akademik Universitas Indonesia yang diusulkan ke Dewan, kata Paulus, rahasia negara hanya menyangkut kebijakan dan aktivitas pertahanan dan keamanan.

Prinsip rahasia negara dalam draf itu, ia melanjutkan, tidak bersifat absolut, ada masa kadaluwarsa dan ada kewenangan Dewan untuk menilai suatu informasi yang disebut rahasia negara. “Dewan berhak bertanya ke pemerintah mengapa informasi itu dikategorikan rahasia,” kata dia. Dalam draf yang kini ada di tangan Departemen Pertahanan, prinsip rahasia negara dinilai bersifat mutlak, tanpa batas waktu dan mengamanatkan pembentukan Dewan Rahasia Negara yang dijabat sejumlah birokrat, yang berwenang mengkategorikan rahasia negara.

Menurut fungsionaris Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang kini aktif di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) itu, Dewan periode sekarang hanya membawa draf RUU Keterbukaan Informasi Publik dari periodenya sebelumnya. RUU Rahasia Negara sebagai pasangan RUU Keterbukaan Informasi ditinggalkan. RUU Rahasia Negara yang kini ada di tangan Departemen Pertahanan adalah rancangan inisiatif pemerintah yang sama sekali berbeda dengan rancangan inisiatif Dewan yang sudah ada sebelumnya.

Adapun pembicara lain Atmakusumah Astraatmaja, Ketua Dewan Pengurus Voice of Human Rights News Center, mengusulkan agar rahasia negara diberi batas waktu. “Agar bisa dibuka dan dapat ditulis dalam sejarah,” kata dia. Ia juga mengusulkan agar rahasia negara harus dapat digugat tanpa menunggu batas waktu. Sebagai pengganti Dewan Perwakilan Rakyat yang berwenang menanyakan alasan kerahasian suatu informasi dalam draf lama, ia mengusulkan agar kewenangan itu dicakup oleh Komisi Informasi Publik, bukan Dewan Rahasia Negara seperti amanat draf baru. “Supaya sinkron dengan UU Keterbukaan Informasi,” ujarnya.

Adapun bila rahasia negara menyangkut pelanggaran hak asasi manusia, kriminalitas negara atau pejabatnya, dokumen yang mencatat hal itu bukan lagi rahasia negara. “Otomatis gugur sebagai rahasia negara,” ujarnya. RUU Rahasia Negara, lanjut dia, tidak dibuat untuk memperluas komponen-komponen rahasia negara tapi justru untuk membatasinya.

Dalam dikusi yang dihadiri oleh sejumlah pemimpin media massa itu, Pemimpin Redaksi majalah Tempo Toriq Hadad meminta Departemen Pertahanan agar melibatkan publik dalam memperbaiki rancangan itu. Menurut dia, publik harus dilibatkan dalam perbaikan sebab bila rancangan rahasia negara sudah disahkan hal itu juga menyangkut kepentingan publik. “Ada suara publik yang perlu ditampung dalam rancangan itu,” ujarnya.

Anton Septian

http://www.tempo.co.id/read.php?NyJ=cmVhZA==&MnYj=MTI0NTY1


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: