Oleh: Agus Sudibyo | September 12, 2008

Komisi Yudisial Akan Eksaminasi Putusan Tempo-Asian Agri

“Sama sekali tidak logis, ini pelanggaran serius.”

Koran Tempo, 12 September 2008

JAKARTA — Komisi Yudisial akan mengeksaminasi (menguji) putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menyatakan majalah Tempo telah menyerang kehormatan dan nama baik Sukanto Tanoto serta Asian Agri Group.

“Begitu nanti ada berkas putusannya, kami akan melakukan telaah (eksaminasi) secara komprehensif,” kata Ketua Komisi Yudisial Busyro Muqoddas setelah menerima pengaduan majalah Tempo di kantor Komisi Yudisial, Jakarta, kemarin. Menurut Busyro, jika ada kesalahan, komisinya memanggil hakim yang memutus perkara tersebut.

Selasa lalu, majelis hakim yang diketuai Panusunan Harahap menerima gugatan yang diajukan Asian Agri Group, perusahaan milik Sukanto Tanoto. Hakim menyatakan berita majalah Tempo edisi 15-21 Januari 2007 tentang dugaan penggelapan pajak Asian Agri dinilai mencemarkan nama baik Sukanto dan Asian Agri. Tempo diminta membayar denda Rp 50 juta plus permintaan maaf tiga hari berturut-turut di majalah Tempo, Koran Tempo, dan Kompas.

Busyro tidak sependapat dengan pertimbangan hakim yang menyatakan pemberitaan itu dikualifikasi menyerang nama baik karena belum ada putusan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan Asian Agri melakukan penggelapan pajak. “Sama sekali tidak logis, ini pelanggaran serius,” kata dia.

Pengaduan majalah Tempo itu diterima langsung oleh Busyro Muqoddas. Hadir juga anggota Komisi Yudisial, Soekotjo Soeparto, Mustafa Abdullah, Chatamarrasjid, dan Zainal Arifin.

Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Toriq Hadad menilai banyak kejanggalan dalam vonis tersebut. Menurut dia, hakim dalam putusannya salah mengutip. Hakim menyatakan bahwa Tempo tidak melayani hak jawab selama setahun. Padahal, kata Toriq, Asian Agri baru mengajukan hak jawab 11 bulan setelah berita itu diturunkan. Tempo juga telah melayani hak jawab tersebut. “Itu putusan yang didasarkan pada fakta yang salah,” ujar Toriq.

Mustafa Abdullah menilai hakim yang memutus perkara tersebut tidak menguasai hukum pers. “Tidak ada ketentuan seperti itu, putusan berkekuatan hukum tetap baru boleh diberitakan,” ujarnya.

Menurut dia, penghinaan itu hanya dapat dilakukan terhadap individu, bukan lembaga. “Yang punya nama baik itu individu, bukan lembaga seperti Asian Agri,” ujar Mustafa. Sementara itu, Chatamarrasjid menilai ada upaya sistematis untuk melemahkan lembaga-lembaga pengawasan, seperti KPK dan pers.

Corporate Chief Editor Tempo Bambang Harymurti juga merasa aneh karena Tempo dinilai mencemarkan nama baik Sukanto dan Asian Agri. “Padahal Sukanto tidak pernah menggugat kami,” ujar Bambang.

Secara terpisah, Koordinator Aliansi Pembela Pasal 28 Agus Sudibyo mengatakan vonis bagi Tempo, yang diminta menyampaikan permohonan maaf di media massa, tidak ada dasar hukumnya. “Baik di Undang-Undang Pers maupun KUH Perdata,” kata Agus dalam jumpa pers di kantor Imparsial.

Aliansi Pembela Pasal 28 merupakan gabungan organisasi wartawan dan lembaga masyarakat, di antaranya Aliansi Jurnalis Independen, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, PWI Reformasi, Yayasan Tifa, LBH Pers, Indonesia Corruption Watch, Imparsial, serta Yayasan Sains dan Estetika.

Adapun Wakil Ketua Kelompok Kerja Pengaduan Dewan Pers Bekti Nugroho mengatakan kasus Tempo akan menjadi preseden buruk bagi kebebasan pers. “Tekanan terhadap pers tidak pernah surut, meski formatnya berbeda,” katanya.

SUTARTO | EKO ARI WIBOWO

http://korantempo.com/korantempo/koran/2008/09/12/Nasional/krn.20080912.142224.id.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: