Oleh: Agus Sudibyo | November 17, 2008

Pers Tak Hanya Mengritik Tetapi Harus Solutif

Jakarta | Rabu, 05 Nov 2008

Reformasi 1998 telah membuka kran demokrasi di Indonesia. Dan saat itulah publik kembali memiliki haknya untuk berbicara dan mengritik, yang kemudian disusul dengan lahirnya beragam media baru. Namun bagi Pengamat Pers Agus Sudibyo, meskipun kritik keras diperlukan sebagai rambu-rambu bagi pembuat kebijakan, tetapi kritik yang diberikan harusnya adalah yang memberikan solusi.

“Jadi harusnya media tidak hanya asal mengritik tetapi mengritik secara substansial. Tidak hanya menyalahkan tetapi memberikan solusi,” ujarnya yang juga menjabat sebagai Deputi Direktur Yayasan Sains Estetika dan Teknologi (SET) Jakarta, itu.

Senin (3/11) lalu, di sela-sela kesibukannya, peneliti pada Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta ini sempat berbincang dengan Jurnal Nasional tentang perkembangan dunia pers di tanah air. Berikut kutipannya:

1. Dunia pers Indonesia saat ini apakah bisa dikatakan sudah bebas?

Untuk melihat kebebasan pers, kita harus lihat dari berbagai aspek. Kalau dari praktik jurnalisme, kebebasan itu sudah terwujud dalam arti wartawan sudah bebas mencari informasi dan media cukup bebas mengkritik kekuasaan dan pemerintah. Tetapi untuk aspek lain sebenarnya kebebasan ini belum benar-benar matang, terutama dari politik regulasi yang dimainkan oleh pemerintah dan para legislator. Saat ini ada banyak Undang-Undang yang sebagian atau keseluruhan mengancam kebebasan pers, seperti UU Pornografi, UU ITE, atau UU Intelijen.

2. Kebebasan pers idealnya seperti apa?

Kebebasan pers ditentukan oleh kebijakan negara yang jelas untuk melindungi kebebasan pers itu sendiri. Selain itu juga ditentukan oleh niat dari komunitas pemilik media yang akan konsisten menyediakan institusi medianya sebagai institusi sosial, bukan hanya bisnis, yang memberikan informasi benar-benar akurat dan bermanfaat buat masyarakat. Sedangkan dari pihak masyarakat diharapkan mereka memiliki cukup kepedulian terhadap apa yang terjadi pada pers dan cukup sadar pers itu adalah alat untuk mengontrol lingkaran kekuasan.

3. Industri media di Indonesia saat ini apakah sudah mengarah ke ideal?

Saya lihat ada perbedaan antara media cetak dan elektronik. Kalau media cetak kita mainstreamnya masih tradisional dalam arti masih punya cukup mentalitas dan perhatian untuk jalankan media sebagai institusi sosial. Berbeda kalau ia adalah media televisi, yang menurut saya tujuan besarnya lebih berat pada tujuan komersial. Jadi tantangan dunia pers Indonesia sekarang itu bukan hanya intervensi negara yang eksesif terhadap kebebasan pers sebagai bagian dari ruang publik, tetapi juga intervensi logika dan akumulasi modal di mana orang menggerakkan media untuk cari keuntungan.

4. Semakin banyak media apakah berarti sebuah negara semakin demokratis?

Belum tentu begitu juga. Problemnya itu harus dibedakan antara freedom from dan freedom for. Kalau bicara tentang pers, saat mulai masuk masa reformasi maka kita bicara freedom from dalam arti bebas dari kekuasan orde baru yang menindas. Tetapi sebenarnya yang sekarang harus kita bicarakan adalah freedom for dalam arti kita itu bebas untuk apa? Jadi maknanya lebih dalam bukan sekedar bebas mengeluarkan pendapat tetapi lebih memperhatikan kegunaan kebebasan tersebut untuk masyarakat.

5. Permasalahan yang kerap dilakukan oleh media?

Media itu masih berkutat pada kebebasannya untuk mengritik, mengontrol, menjadi pilar keempat dalam demokrasi yang mengimbangi kekuatan eksekutif, legislatif, serta yudikatif. Tetapi yang perlu diperhatikan, jangan-jangan media belum bicara soal kualitas mengritik. Tentang bagaimana mengritik yang berkualitas dengan menggunakan standar etik yang digunakan oleh media. Jadi harusnya media tidak hanya asal mengritik tetapi mengritik secara substansial. Tidak hanya menyalahkan tetapi memberikan solusi. Tetapi solusi yang dimaksud bukan berarti media memberi solusi langsung tetapi bisa dalam bentuk sebuah produk yang dihasilkan melalui proses seperti kontinuitas pemberitaan. Solusi juga bisa lewat diskusi publik yang disponsori oleh media hingga terlahirlah sebuah wacana dari publik.

6. Efek saat media hanya mengritik dan tidak memberikan solusi?

Maka peran media akan menjadi pihak yang membodohi, dan memberikan contoh yang tidak benar. Hingga perlahan-lahan masyarakat pun akan kehilangan kepercayaan terhadap pers. Hal yang perlu diperhatikan juga, secara psikologis masyarakat kita itu beda dengan era awal reformasi. Saat ini masyarakat sudah bosan dengar kritik yang keras. Kritik keras bukannya tidak perlu, tetapi media seharusnya tahu kapan harus memberikan kritik semacam itu.

7. Institusi media idealnya seperti apa?

Pertama, pendidikan jurnalisme. Sekarang ini semua orang bisa jadi jurnalis, nah itu yang harus dibikin standar dan lagi-lagi bukan negara yang mengatur, tetapi asosiasi media atau medianya sendiri. Kedua, kesejahteraan wartawan harus diperbaiki agar mereka juga bisa bekerja dengan baik. Sekaligus menghilangkan praktik uang amplop. Dan ketiga, adanya komitmen dari pengusaha media untuk mengimbangi medianya sebagai institusi publik, sosial, serta bisnis.

8. Anda sendiri apakah ingin kembali masuk menjadi pelaku media, atau membuat sebuah media?

Saya tidak ingin menjadi bagian dari media atau membuat media baru karena media di Indonesia itu kan sudah banyak. Lagi pula saya saat ini masih menikmati aktivitas sebagai peneliti dan penulis saja.

9. Kesibukan Anda saat ini?

Saya sedang proses membuat buku berjudul Anomali Ruang Publik Pers Indonesia Pasca 1998. Mudah-mudahan terbit tahun depan. Saya juga sedang mengembangkan lembaga pemantau media yang memantau rating. Dalam hal ini saya dan rekan-rekan ingin melihat apakah hasil survei yang dilakukan oleh lembaga penelitian media itu valid. (Nunik Triana)

Biodata:

Nama : Agus Sudibyo

Tempat/Tgl Lahir : Malang, 8 Juni 1974

Pendidikan Terakhir :

Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM ( 1992-1998 )

Mahasiswa Magister Filsafat STF Driyarkara Jakarta

Pengalaman Kerja :

Peneliti pada Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta

Koordinator Program Monitoring Media untuk Pemilu 2004 (ISAI/Koalisi Media Untuk Pemilu Bebas dan Adil- Maret 2004-Oktober 2004)

Koordinator Program Monitoring Media untuk Konflik Aceh (ISAI- April 2003 – Februari 2004)

Koordinator Kampanye Koalisi (Ornop) untuk Kebebasan Informasi (Maret 2000 – Juli 2003)

Anggota redaksi jurnal/majalah media watch Pantau (1999-2003)

Wartawan Jawa Pos Biro Yogyakarta (1998-1999)

Pengalaman Internasional :

Partisipan dalam Annual Meeting The Council of Asia-Pacific Press Institutes (CAPPI), di New Delhi (3-8 Nopember 2003)

Partisipan dalam Internasional Visitor Program yang diselenggarakan US State Department untuk studi banding tentang kebebasan pers dan kebebasan informasi di 5 kota : Washington DC, New York, Tampa/St. Petersburg, Salt Lake City dan Los Angeles (1-25 April 2004)

Partisipan dalam South East Asia Press Association (SEAPA) Fellowship Program Tahun 2004, untuk studi tentang “Malaysiakini.com dan Gerakan Reformasi di Malaysia (25 Juni-30 Juli 2004)

Narasumber dalam Workshop on the Regulation of Broadcasting in Indonesia: A Review of the First Three Years” University of Wollongong Australia, on 31 January – 2 February 2007.

Aktivitas Sekarang :

Deputi Direktur Yayasan Sains Estetika dan Teknologi (SET) Jakarta.

Koordinator Loby Koalisi Untuk Kebebasan Informasi (Koalisi NGO yang berubaha memperjuangkan pengesahan UU Kebebasan Informasi/Freedom of Information Act, berdiri sejak Desember 2000)

Penghargaan :

Penerima Press Freedom Award 2007 dari AJI Indonesia dan DRSP-USAID

Buku Yang Pernah Terbit :

Citra Bung Karno: Analisis Berita Pers Orde Baru (Bigraf Publishing, Yogyakarta, 1999)

Kabar-Kabar Kebencian, Prasangka Agama di Media Massa (ISAI Jakarta, Januari 2001, bersama Ibnu Hamad dan M. Qodari))

Politik Media dalam Pertarungan Wacana (LKIS, 2000)

Ekonomi Politik Media Penyiaran (LKIS-ISAI, 2004)

Salah satu penulis dalam buku 100 Tahun Bung Karno, Berdialog dengan Sejarah (Kompas, 2001)

Salah satu penulis dalam buku Neraca Gus Dur (Lakspesdam, 2002)

by : Nunik Triana

http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Sosok%20dan%20Sketsa&rbrk=&id=70778&postdate=2008-11-05&detail=Sosok%20dan%20Sketsa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: