Oleh: Agus Sudibyo | Desember 8, 2008

Ghazali: Tayangkan Acara Berkualitas di Prime Time

Jurnal Nasional, Kamis, 04 Des 2008

Pengamat Komunikasi Effendi Ghazali meminta televisi menayangkan acara berkualitas di televisi pada jam tayang utama (prime time). Hal tersebut dinilai penting karena selama ini acara hiburan di televisi tidak berkualitas.

“Dengan adanya kesepakatan untuk menayangkan acara berkualitas pada setengah jam tayang utama, misalnya pukul 20.00-22.00 WIB, maka saya yakin dalam waktu 1 atau 2 tahun cara berpikir masyarakat akan berubah,” kata dia usai acara “Laporan Penelitian Rating Publik” di Jakarta, kemarin (3/12). “Jika setiap stasiun menayangkan acara yang baik, maka selera rakyat akan terbentuk dengan sendirinya,” kata Effendi lagi.

Selama ini, kata Effendi, masyarakat bukannya tak mau memilih tontotan berkualitas. Hanya saja pada jam-jam tayang utama, biasanya hanya menayangkan sinteron. Dengan kata lain, masyarakat tak diberi pilihan tontonan oleh televisi. “Kalau semua stasiun menerapkan tayangan berkualitas, maka masyarakat akan terbiasa menonton program yang berkualitas dan kue iklan akan mengalir,” tegasnya.

Untuk memilih tayangan yang berkualitas, pemerintah dapat membuat media rating council, yang terdiri dari profesional. Effendi mengusulkan sekitar 200 orang menjadi anggota lembaga ini dan diminta mengirimkan hasil pemantauan tiap minggu atau tiap bulannya.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Yayasan Science dan Estetika (SET), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, Yayasan TIFA dan Departtemen Komunikasi dan Informatika, 45,8 persen responden menilai acara hiburan sangat buruk, 36,3 persen menilai biasa saja dan hanya 15,6 persen yang menjawab baik.

Deputi Direktur Yayasan Science dan Estetika (SET) Agus Sudibyo mengatakan bahwa saat ini televisi hanya menayangkan acara hiburan yang memiliki rating tinggi saat jam tayang utama. Sedangkan kualitasnya tak diperhatikan.

Secara umum, Agus menjelaskan, program berita televisi dinilai sangat baik menambah pengetahuan (85,8 persen), mempunyai fungsi pengawasan/surveillance (71,2), meningkatkan empati sosial (53,3), meningkatkan daya kritis (52,4), memenuhi kaidah keberimbangan berita (43,9), tidak melebih-lebihkan fakta (41), memisahkan fakta dengan opini (35,8), dan berpihak pada kepentingan publik (56,6).

Sedangkan program talkshow di televisi dinilai sangat baik menambah pengetahuan (60,8), mempunyai fungsi pengawasan/surveillance (47,6), meningkatkan empati sosial (58,5), meningkatkan daya kritis (49,5), berpihak pada kepentingan publik (50), menghibur (58) dan dibawakan baik oleh presenter (62,7).

Program hiburan di televisi dinilai sangat buruk/buruk meningkatkan empati sosial (48,6 persen), sangat buruk/buruk memberikan model perilaku yang baik (61,8 persen), biasa saja/tidak begitu menghibur (42 persen), mengandung kekerasan (63,2 persen), mengandung pornografi (46,2 persen), tidak relevan/bersentuhan dengan kenyataan (61,3), tidak ramah anak (69,3), tidak ramah lingkungan (55,7), bias jender (57,1), dan tidak berpihak pada kepentingan publik (57,8).

by : Ika Karlina Idris

http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Sembilan&rbrk=&id=74419&postdate=2008-12-04&detail=Sembilan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: