Oleh: Agus Sudibyo | Desember 10, 2008

Sensibilitas Media dan Banalitas Kekerasan

Jawa Pos, 21 November 2008

Oleh: Agus sudibyo

Liputan media terhadap proses eksekusi terpidana mati kasus bom Bali beberapa waktu lalu memantik kegelisahan banyak pihak. Media, khususnya media televisi, dianggap terlalu berlebihan dan tidak proporsional dalam memberitakan peristiwa tersebut. Media televisi dianggap telah turut mengubah citra pelaku kejahatan brutal menjadi seorang hero, pejuang.

Terlepas dari sejauh mana kebenaran anggapan itu, satu hal yang pasti, media televisi tidak memandang peristiwa tersebut dari suatu ruang hampa, tanpa sudut pandang atau nilai sama sekali. Porsi liputan yang besar diberikan karena eksekusi mati pelaku bom Bali mempunyai nilai berita yang sangat tinggi. Bukan hanya nilai aktualitas, tapi juga nilai magnitude, prominence, proximity, conflict, dan relevans.

Inilah klimaks tragedi tewasnya ratusan orang, sebagian besar warga asing, dalam suatu peledakan bom yang melibatkan sentimen agama tertentu. Sebuah peristiwa yang secara signifikan turut memengaruhi posisi geopolitik-ekonomi bangsa Indonesia. Sebuah muara dari drama proses penyelesaian hukum yang berbelit-belit, sensasional, dan menimbulkan rasa penasaran yang besar pada publik Indonesia dan luar negeri. Inilah peristiwa hukuman mati pertama bagi pelaku ”terorisme” dalam sejarah.

Dalam konteks ini, pokok persoalan jelas bukan porsi pemberitaan yang berlebihan. Tapi, dengan porsi liputan yang begitu berlimpah itu, apa yang bisa diberikan media televisi kepada publik? Apakah hanya kronologi peristiwa? Apakah hanya dramatisasi atas ekspresi keluarga terpidana dan para simpatisan?


***

Momentum eksekusi terpidana mati kasus bom Bali terlalu berharga jika hanya digunakan media untuk menayangkan hal-hal yang aktual, manifes, yang tertangkap langsung oleh kamera di lapangan, semata-mata untuk memenuhi rasa ingin tahu (voyeurism) masyarakat. Peristiwa tersebut adalah kesempatan yang sangat berharga untuk membangun kesadaran publik tentang bagaimana hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu, bagaimana keadilan untuk para korban, bagaimana sikap toleransi harus dilembagakan.

Inilah kesempatan besar untuk membangun kewaspadaan (surveillance) masyarakat terhadap gejala-gejala terorisme, fundamentalisme, dan seterusnya. Berbagai pelajaran tersebut hanya akan menjadi kesadaran bersama jika ada komitmen dari media sebagai institusi yang begitu eksesif pengaruhnya terhadap publik.

Sayangnya, media televisi belum berhasil memanfaatkan secara optimal kesempatan langka itu. Media televisi tak bisa keluar dari pola liputan yang serbalangsung, seketika, dan instan dari lapangan. Media terjebak dalam ”logika waktu pendek”: prinsip pengorganisasian informasi yang menekankan kecepatan, efisiensi, serta efektivitas.

Dengan logika waktu pendek, proses news production kurang lebih berlangsung dalam situasi penuh tekanan, bahkan panik, karena awak media terkondisi untuk berlomba-lomba mendapatkan sudut pengambilan gambar terbaik, narasumber paling eksklusif, dan informasi terbaru. Kedalaman dan komprehensi penyajian fakta dinomorduakan.

Besarnya porsi liputan terhadap eksekusi mati terpidana mati bom Bali juga tidak diimbangi agenda setting yang jelas. Media televisi umumnya terkesan larut dalam agenda pemerintah atau aparat kepolisian. Media tidak cukup selektif terhadap apa yang layak dan tidak layak disajikan dari keputusan dan statemen resmi pejabat terkait. Seakan-akan ke mana pun aparat kepolisian bergerak, ke sanalah kamera televisi tertuju.

Dalam euforia atas peristiwa besar, media televisi telah turut mem-PR-kan keberhasilan aparat keamanan dan pemerintah dalam menyelesaikan masalah. Media, misalnya, kurang mempersoalkan besarnya dana untuk menyukseskan ”proyek” eksekusi itu, apakah perlakuan ekstra pemerintah terhadap peristiwa tersebut wajar, apa iya seorang Kapolda harus tergopoh-gopoh turut menjemput jenazah si terpidana mati, dan seterusnya?

***

Yang juga perlu diwaspadai adalah dampak liputan media yang menegasikan nilai keutamaan-keutamaan media seperti di atas terhadap konstruksi berpikir masyarakat tentang kekerasan. Mungkin benar, tayangan televisi bukan satu-satunya faktor pendorong seseorang untuk meniru perilaku kekerasan. Namun, tayangan-tayangan kekerasan di televisi yang terus disajikan serbainstan dan artifisial tanpa misi yang jelas bisa menumpulkan sensibilitas publik terhadap kekerasan.

Di tengah perasaan tak berdaya dan putus asa terhadap produksi kekerasan yang terus terjadi, terhadap ketidakmampuan sistem untuk mengeliminasi kekerasan dan memberikan rasa aman, televisi secara rutin menyajikan kekerasan, situasi lapangan, dan kondisi korban sebagai sesuatu yang riil serta faktual.

Lantas, publik perlahan-lahan menganggap kekerasan itu sebagai sesuatu yang wajar dan niscaya terjadi. Publik mulai kehilangan rasa miris terhadap pembunuhan, histeria terhadap darah dan mayat, dan akhirnya rasa iba terhadap korban. Kekerasan tak lagi sungguh-sungguh dikonstruksi sebagai sesuatu yang abnormal dan patologis. Inilah banalitas kekerasan.

Di layar televisi, pemirsa menangkap bagaimana pelaku kekerasan dengan ringan tangan dan penuh kebanggaan menghilangkan nyawa orang lain. Pun demikian, dia tetap berpeluang untuk menjadi the role of model, dipuja-puja bak pahlawan. Kekerasan seakan-akan menjadi legitimate dilakukan atas nama suatu keyakinan.

Dan ketika publik semakin tidak acuh terhadap sirkuit kekerasan yang terjadi, banalitas kekerasan bisa meruntuhkan penghargaan terhadap hukum dan tertib sosial. Perspektif semacam itulah yang luput ketika televisi memproduksi wacana kekerasan yang terjadi belakangan.


Agus Sudibyo , deputi direktur Yayasan SET Jakarta

http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=36754


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: