Oleh: Agus Sudibyo | Desember 11, 2008

Memburu Peringkat di Layar Kaca

Tempo, 42/XXXVII 08 Desember 2008

Lantaran rating tinggi, frekuensi dan durasi penayangan reality show Termehek-mehek ditambah.

SEORANG lelaki jangkung berkulit putih melangkah ke halaman sebuah rumah. Di wajahnya, ia menggotong rasa marah dan persediaan otot. Lelaki jangkung bernama Andi itu kemudian menemui kakak iparnya, Jaya. Maka berhamburanlah amarah dan tinju Andi ke tubuh Jaya. Untung saja, iparnya itu berhasil menghindar. Beberapa orang di sekeliling mereka berusaha menghentikan amuk Andi.

Bagi Andi, lelaki seperti Jaya pantas dihajar. Itulah tujuan Andi melesat dari Yogyakarta ke Jakarta. Jaya meninggalkan istrinya di Yogyakarta yang tengah mengandung. Lebih dari enam bulan mereka tak mendengar secuil kabar pun dari Jaya, hingga sang istri melahirkan. Malang, si jabang bayi meninggal saat lahir. Andi, yang telah mencari Jaya ke berbagai pelosok Jakarta, makin geram setelah mengetahui Jaya telah menikah lagi.

Kisah pencarian Jaya oleh Andi dibuat mirip cerita detektif. Puncaknya adalah saat Andi menemukan domisili Jaya. Adegan tersebut makin terasa dramatis dengan iringan lagu Cinta Harus Dimengerti dari kelompok The Sabian. Pokoknya, kayak sinetron, deh.

Itulah sepotong cerita dari reality show berjudul Termehek-mehek episode 46, yang ditayangkan akhir November lalu, di Trans TV. Acara yang dimulai pukul 18.30 dan merupakan kerja sama rumah produksi Triwarsana dan Trans TV ini memang sedang naik daun. Termehek-mehek memperoleh rating dan share tertinggi dari semua acara yang ditayangkan di semua stasiun televisi sepanjang minggu ke-47 tahun ini, yakni 7,2 dan 27,3.

Program yang ditayangkan sejak 3 Mei lalu ini mengalahkan Happy Family—reality show di Trans TV, yang menampilkan seorang artis yang melawan orang yang punya hubungan dekat dengannya, misalnya ibu, dalam sebuah permainan. Termehek-mehek juga menggulingkan popularitas Cinta Fitri di SCTV. Sinetron yang tahun lalu berada di puncak pencapaian jumlah penonton itu kini hanya berada di urutan ketiga.

Berkat peringkat tinggi, iklan pun menyesaki penayangan acara yang durasinya sejak bulan lalu diperpanjang dari 30 menjadi 45 menit tersebut. Jam tayang pun ditambah sejak 19 Juli lalu, dari tiap Sabtu menjadi dua kali seminggu, Sabtu dan Minggu.

Termehek-mehek merupakan reality show tentang kisah pencarian seseorang dengan bantuan tim pengelola acara. Dalam acara, dua pembawa acara, Panda dan Mandala, berperan mirip detektif. Mereka membantu klien—orang yang minta tim penggarap Termehek-mehek—mencari seseorang (target) yang telah putus hubungan selama beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun. Tim berusaha mencari informasi dari mana saja dan kemudian melacak sang target.

Di akhir acara yang ditayangkan, klien selalu bertemu dengan orang yang dicarinya. Adegan pertemuan selalu dikemas sedramatis mungkin, seperti contoh episode Andi dan Jaya itu.

Pada episode lain, seorang klien perempuan mendapati kekasihnya sudah meninggal karena sakit. Ada lagi klien laki-laki menemukan bekas kekasihnya sakit jiwa setelah putus cinta. ”Kami memang menginginkan kisah yang berbeda di tiap episode,” kata Hadiansyah Lubis, Kepala Departemen Marketing Public Relations Trans TV.

Acara ini lahir dari tangan Helmy Yahya, yang telah 10 tahun mengelola rumah produksi Triwarsana. Menurut dia, istilah termehek-mehek kurang-lebih berarti menangis tersedu-sedu atau merasa tidak berdaya akibat sesuatu atau seseorang. Helmy merasa kata itu terdengar unik dan secara spontan ia merencanakan acara televisi bertajuk Termehek-mehek. Saat itu, ia belum tahu acaranya akan berbentuk seperti apa: sinetron, reality show, variety show, atau talk show.

Akhirnya diputuskan Termehek-mehek sebagai reality show yang diambil dari kisah nyata. Memang banyak penonton yang mempertanyakan apakah acara itu memang kisah nyata. Toh, perolehan peringkatnya tinggi. Kisah nyata atau bukan, memang hanya pihak pengelola yang tahu. Namun, bila diperhatikan, rekayasa dalam acara itu begitu kentara. Lihatlah misalnya cara istri Jaya bertanya kepada pembawa acara. Jika benar dia keberatan masalah keluarganya muncul di televisi, tentu dia tidak akan ngomong begitu banyak di depan kru Trans TV yang terus saja merekam gambar.

Satu lagi, simak dialog Andi yang mengaku asli Yogyakarta. Caranya berbicara tidak mirip orang Jawa asli. Logatnya terlalu dibuat-buat agar terdengar medhok. Sungguh terlihat konyol.

Helmy Yahya mengakui tidak semua bagian diperankan pelaku aslinya. Ada banyak faktor teknis yang membuat Triwarsana dan Trans TV harus menggunakan peran pengganti. Kendati begitu, Hadiansyah menjamin acara ini dibuat berdasarkan fakta, yaitu kisah dari kliennya. ”Karena ini program televisi, tentu saja harus enak ditonton. Kami membuat drama dan alurnya,” katanya.

Karena rating adalah ”raja” di dalam industri pertelevisian, itulah yang dikejar. Acara ini mencapai rating tinggi; iklan antre. Gejala berikutnya: lahirlah epigon reality show baru. Tiga pekan lalu, misalnya, Trans TV sudah menyajikan acara Orang Ketiga. Sedangkan RCTI menayangkan reality show baru Mata Mata, You Percaya, I Percaya, Gantian Dong, dan Kacau sejak awal November lalu. Helmy Yahya mengaku kebanjiran pesanan reality show mirip Termehek-mehek. ”Ini pembusukan terhadap Termehek-mehek,” katanya.

Jurus meniru acara ber-rating tinggi ternyata manjur. Menurut Public Relations Executive AGB Nielsen Media Research Andini Wijendaru, survei lembaga ini pada 23-29 November lalu memperlihatkan rata-rata reality show memperoleh rating 7. Artinya, tujuh persen dari 42,6 juta penonton yang disurvei di sepuluh kota besar Indonesia menyaksikan reality show yang menjamur belakangan ini. ”Ini cukup tinggi. Hampir sama dengan sinetron,” katanya.

Soal latah itu sudah biasa dalam industri televisi. Tayangan sinetron berbau agama dan mistik sempat menjamur gara-gara naiknya rating sinetron Rahasia Illahi di stasiun TPI. Pada 1990-an, fenomena Si Doel Anak Sekolahan di RCTI kemudian melahirkan sinetron berlatar belakang kehidupan orang Betawi.

Menurut Deputi Direktur Yayasan Sains Estetika dan Teknologi (SET) Agus Sudibyo, jika rating tetap menjadi acuan, ”duplikasi” acara televisi semata-mata berdasarkan pertimbangan rating, bukan kualitas, akan terus berulang. Pengelola televisi pun tidak mau melakukan usaha selain mengandalkan rating versi AGB Nielsen Media Research, yang dijadikan rujukan pengiklan untuk memasang iklan.

Menurut Agus, harus ada landasan lain untuk menentukan kebijakan pemasangan iklan pada acara televisi atau kapan tayangan harus dihentikan karena dinilai tidak bermanfaat. Para penonton saat ini sebenarnya cukup cerdas untuk memilih tayangan yang bermanfaat buat mereka. ”Buktinya, banyak sekali orang yang memprotes (jika ada) acara televisi yang buruk,” katanya.

Andini mengakui rating tidak ada hubungannya dengan kualitas acara. Dia pun sepakat dengan Agus, diperlukan ukuran lain untuk melihat kualitas suatu tayangan televisi. Namun, menurut dia, pihak televisilah yang seharusnya melakukan survei tambahan untuk mengukur kualitas tayangannya.

Setelah melakukan riset tentang rating tayangan televisi berdasarkan kualitas sebagaimana dimuat jurnal Media Watch edisi Mei lalu, Yayasan SET mengolah langkah agar pengiklan tidak semata-mata mengandalkan rating dalam memasang iklan. Yayasan ini tengah membuat peringkat berdasarkan riset tentang acara televisi yang buruk menurut penonton. SET akan mempublikasikan nama-nama pengiklan yang memasang iklan di acara-acara yang buruk itu. Menurut Agus, karena iklan juga ingin menaikkan citra sebuah produk, pasti pengiklan tidak sudi lagi beriklan di tayangan yang buruk meskipun rating-nya tinggi.

Tolok ukur alternatif untuk melihat dan menilai apa pun, termasuk peringkat acara televisi, memang diperlukan. Agar acara tidak dibuat hanya karena termehek-mehek mengejar rating tinggi berdasarkan jumlah penonton.

(Nur Hidayat, Iqbal Muhtarom)

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/12/08/TV/mbm.20081208.TV128921.id.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: