Oleh: Agus Sudibyo | Agustus 12, 2009

Rahasia Negara dan Kepentingan Asing

KOmpas, Rabu, 5 Agustus 2009 | 03:33 WIB

Oleh Agus Sudibyo

Desember 2004, surat kabar The Guardian di Inggris melaporkan proyek pembelian 100 unit tank Scorpion oleh Pemerintah Indonesia kepada perusahaan senjata Alvis Vehicle Limited tahun 1994-1996.

Dalam laporan ini diungkapkan, ada seseorang yang berperan besar dalam memuluskan alokasi APBN untuk proyek itu menerima ”insentif” 16,5 juta poundsterling dari Alvis Vehicle Limited. Pemerintah Indonesia juga cedera janji karena tank Scorpion sebenarnya tidak boleh digunakan dalam konflik bersenjata, seperti terjadi pada konflik Timor Timur dan Aceh.

Skandal pembelian tank Scorpion memantik kontroversi di Tanah Air. Laporan The Guardian diulas lebih jauh oleh media-media nasional. Namun, peristiwa seperti ini akan sulit terulang jika Rancangan Undang-Undang Rahasia Negara yang sedang dalam pembahasan disahkan tanpa perubahan signifikan.

Dalam RUU ini (Pasal 6) disebutkan, rahasia negara mencakup informasi, ”rencana alokasi dan laporan pembelanjaan yang berkaitan dengan misi dan tugas nyata pertahanan… dan informasi berkaitan dengan impor dan ekspor persenjataan, teknologi perang dan amunisi untuk penggunaan (perbekalan) TNI”.

Dengan demikian, informasi tentang impor tank Scorpion adalah rahasia negara. Mengutip The Guardian adalah tindakan ilegal. Media yang melakukan akan didakwa melakukan pidana pembocoran rahasia negara dengan hukuman minimal lima tahun kurungan penjara.

Aneh tapi nyata, sesuatu yang bersifat transparan bagi publik luar negeri bersifat tertutup untuk publik dalam negeri. Orang asing bisa leluasa mengetahui skandal suap dalam kasus Scorpion, sementara publik negeri sendiri dilarang bahkan dikriminalkan jika mengetahui hal itu.

Membatasi akses

Kasus lain. Surat kabar Sydney Morning Herald, 14 Maret 2002, melaporkan keterlibatan intelijen Australia-AS dalam kasus lepasnya Timor Timur. Diceritakan pada tahun 1999, dengan fasilitas militer canggih, Australia menyadap komunikasi seluler Jakarta- Dili. Jika RUU Rahasia Negara disahkan tanpa perbaikan berarti, bisa jadi tak ada media nasional berani mengutip laporan Sydney Morning Herald itu.

Dengan formula yang ada sejauh ini, UU Rahasia Negara akan efektif untuk membatasi akses pers nasional terhadap isu-isu strategis pertahanan, tetapi tidak efektif mereduksi kemungkinan pers asing memberitakan isu-isu tersebut. UU Rahasia Negara hanya akan efektif untuk membatasi akses publik atas aneka informasi pemerintahan, tetapi tidak cukup efektif mengatasi problem difusi informasi, penyadapan, dan operasi mata-mata pihak asing.

Jelas, merujuk laporan Sydney Morning Herald, difusi informasi terutama bukan karena masalah lemahnya regulasi, tetapi karena kecanggihan teknologi pihak asing dalam membobol sistem informasi kita.

Persoalannya lebih karena keterbatasan teknologi dan SDM kita untuk mengatasi difusi informasi. Atau jangan-jangan di zaman serba teknologi ini, difusi informasi menjadi keniscayaan tiap negara! Namun, RUU Rahasia Negara tidak menawarkan formula apa-apa untuk mengatasi masalah ini. Fokus utama RUU Rahasia Negara adalah pembatasan hak publik untuk mengakses aneka informasi pemerintahan. Lalu siapa yang benar-benar mengancam sistem kerahasiaan negara, operasi intelijen asing atau warga negara biasa dengan hak-hak atas informasinya?

Menghambat akses publik

RUU Rahasia Negara cenderung mengatur hal-hal yang tidak membutuhkan pengaturan. Klasifikasi rahasia negara terhadap ”informasi impor dan ekspor persenjataan dan, teknologi perang dan amunisi untuk penggunaan (perbekalan) TNI” misalnya, tidak akan efektif karena UN Register of Conventional Arm and UN Standarized of Reporting on Military Expenditure mewajibkan transparansi transfer senjata konvensional antarnegara.

Sebagai anggota PBB, Indonesia juga terikut Guidelines for International Arms Transfer—dikeluarkan Disarmament Commision Mei 1996—yang juga mewajibkan pelaporan transaksi transfer senjata antarnegara. Maka, sekali lagi UU Rahasia Negara akan membuat kita ”buka-bukaan” di hadapan pihak asing, tetapi penuh kerahasiaan di hadapan publik sendiri.

Dalam konteks ketahanan ekonomi nasional, juga hendak dirahasiakan ”dokumen negosiasi dalam persetujuan finansial… rencana, proyeksi, atau informasi yang berkaitan dengan perdagangan imbal balik perlengkapan khusus, teknologi khusus dengan negara lain” (Pasal 6).

Tanpa rincian jelas, klausul ini akan menghambat akses publik atas informasi tentang sumber daya alam dan tata kelolanya. Bangsa sendiri tidak akan tahu seberapa berharga kekayaan alam yang terkandung dalam perut bumi pertiwi, sementara pihak asing dapat mengetahuinya lewat pengindraan satelit.

Ketertutupan informasi tentang kekayaan alam hanya menguntungkan para pemodal besar yang dekat dengan kekuasaan, serta akan melahirkan kontrak karya dengan pihak asing yang justru merugikan kepentingan ekonomi nasional seperti terjadi pada Blok Tangguh, Freeport, dan lain-lain.

Jika demikian, kepentingan apa yang hendak dilindungi jika formula RUU Rahasia Negara justru lebih favourable bagi kepentingan asing?

Agus Sudibyo Aliansi Masyarakat Menentang Rezim Kerahasiaan

http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/05/0333106/rahasia.negara.dan.kepentingan.asing

Iklan

Responses

  1. klo alasan SBY dg RUU tsb untuk mengantisipasi pencurian data oleh pihak asing maka kesimpulan sya RUU RahsiaNGr tak perlu diteerbitkan tapi perkuat teknologi untuk penangkalan pencurian data mis teknologi enkripsi ,dll.

    RUU tsb hanya lasan SBY untuk bisa memperlancar proses pengambialn keputusan dipemerintahan saja .Maksudnya setiap proses ttg pengambilan keputusan tsb jika bocor maka org yg membocorkannya dpt dikenai hukuman krn UU R. ngr .

    RUU tsb juga menjadi jalan bebas hambatan bagi SBY untuk menjadi Diktaktor.

    ViVa SBY, good luck King


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: