Oleh: Agus Sudibyo | Februari 5, 2010

Polda Metro Imbau Hewan Tak Dibawa

Kamis, 4 Februari 2010 | 03:37 WIB

Jakarta, Kompas – Polda Metro Jaya mengimbau pengunjuk rasa tidak membawa hewan, termasuk kerbau, dalam aksinya. Hewan tak cocok dibawa ke tempat keramaian.

”Kalau membawa hewan itu ke jalan raya, bisa mengganggu keamanan dan ketertiban pengguna jalan lain,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Boy Rafli Amar di Jakarta, Rabu (3/2).

Boy menyatakan, Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum mewajibkan pengunjuk rasa menjaga ketertiban. Pengunjuk rasa juga dilarang membawa benda yang dapat membahayakan keselamatan umum.

”Jika kerbaunya tiba-tiba stres lalu lari ke kerumunan, mobil, atau motor, siapa yang bisa menjaganya. Itu sama saja dengan tak memenuhi UU,” kata Boy.

Kerbau dibawa dalam unjuk rasa yang digelar Pemuda Cinta Tanah Air menyambut 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono di Jakarta, 28 Januari lalu. Presiden Yudhoyono pada pembukaan rapat kerja dengan para menteri dan gubernur se-Indonesia di Istana Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa, memprihatinkan unjuk rasa yang dinilainya tidak beretika itu (Kompas, 3/2).

Secara terpisah, Rabu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto menegaskan, rapat kerja pemerintah yang dipimpin Presiden selama dua hari di Cipanas sama sekali tidak membahas demo 28 Januari lalu. Presiden hanya meminta perhatian terhadap adanya peserta demo yang dinilai tidak etis.

Tidak relevan

Anggota Dewan Pers, Agus Sudibyo, mengakui, Presiden Yudhoyono terpilih sebagai presiden tahun 2004 karena simpati masyarakat yang memandangnya sebagai korban dan sikap santunnya. Namun, pencitraan sebagai korban itu tidak relevan untuk terus dipertahankan.

”Sekarang rakyat membutuhkan figur yang kuat dan mampu mengayomi. Bukan korban. Sosok korban justru akan mengesankan kelemahan,” ujar Agus.

Meskipun caranya tidak tepat, persoalan yang lebih substansial adalah pesan yang ingin disampaikan pengunjuk rasa. Sebagai Presiden, Yudhoyono diharapkan lebih merespons persoalan substansial itu.

Agus berpendapat, mungkin sebagian orang mengkritik Presiden Yudhoyono karena motif politik tersendiri, tetapi tidak bisa dipukul rata semua pengkritik seperti itu. Ada kelompok yang benar-benar memperjuangkan prinsip antikorupsi atau perbaikan tata kelola pemerintahan. ”Jika Presiden ingin merespons kelompok yang dinilainya punya agenda politik sendiri, sebaiknya tunjuk nama saja,” katanya.

Secara terpisah, mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Adnan Buyung Nasution, menuturkan, seharusnya Presiden tak perlu menyampaikan keluh kesah secara langsung. Persoalan itu seharusnya disampaikan juru bicara atau menteri agar tak muncul penilaian keliru terhadap kepemimpinan Yudhoyono.

(**/COK/day/nwo/HAR)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/04/03372666/polda.metro.imbau.hewan.tak.dibawa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: