Oleh: Agus Sudibyo | Agustus 26, 2010

Kebohongan dan Pelupaan

Agus Sudibyo

Koran Tempo, 26 Agustus 2010

Benarkah Kepolisian Negara Republik Indonesia telah berbohong kepada publik tentang rekaman percakapan Ade Raharja dengan Ary Muladi? Sejauh ini kebenaran perkara ini masih simpang-siur. Kepolisian RI, yang tidak berhasil membuktikan adanya rekaman itu sebagaimana diminta majelis hakim dalam persidangan terhadap Anggoro Widjojo, telah menyatakan yang mereka miliki adalah sebatas call data record (CDR) percakapan kedua belah pihak. Publik pun kembali dihadapkan kepada kontroversi dan silang pendapat melalui media massa. Namun, andaikan kebohongan itu benar terjadi, tak perlu terkejut jika reaksi publik ternyata biasa-biasa saja. Persoalannya, kebohongan semacam itu memang sudah jamak terjadi dalam kehidupan politik negeri ini.

Ada begitu banyak skandal politik yang diangkat ke permukaan, mendominasi wacana media, menimbulkan kegaduhan nasional, namun berakhir tanpa kejelasan dan kebenaran. Begitu sebuah maksud politik tercapai, proses untuk mengungkap skandal itu pun berakhir dengan antiklimaks, tanpa kepastian dan keadilan bagi publik. Sebagai contoh, kita bisa menyebut ”Buloggate”dan ”Bruneigate” yang telah memaksa Presiden Abdurrahman Wahid lengser sebelum waktunya.Yang mutakhir dan masih segar dalam ingatan kita adalah skandal Bank Century. Begitu gegap-gempita para wakil rakyat mempersoalkan dua skandal itu, memeriksa pihak-pihak terkait dan membangun opini publik. Namun, tak lama setelah Gus Dur dan Sri Mulyani lengser dari jabatan masing-masing, kedua skandal itu seperti menguap ditelan angin.

Para pemimpin telah berbohong tentang keberadaan suatu skandal atau tentang komitmen mereka untuk mengungkap kebenaran skandal itu demi kepentingan publik. Kebohongan juga lazim terjadi pada janji-janji pemilu: mengentaskan masyarakat dari kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, memberantas korupsi, dan seterusnya. Janji-janji itu notabene adalah pepesan kosong yang dilupakan begitu saja ketika kemenangan politik telah di tangan.

Permisibilitas kebohongan, demikian sosiolog Georg Simmel (1950) menyebut kondisi ketika kebohongan menjadi kelaziman. Kebohongan dan kejujuran pada akhirnya sama-sama menjadi bagian integral dari relasi sosial dalam masyarakat. Ini terjadi karena, dalam struktur masyarakat yang kompleks, hampir mustahil mewujudkan syarat ideal dari relasi sosial: saling mengenal satu sama lain (reciprocal knowledge). Kita hampir tak mungkin secara intens mengenal pihak-pihak yang berhubungan dengan kita, yang berperan besar terhadap kelangsungan hidup kita. Relasi sosial praktis hanya didasarkan pada prinsip kejujuran dan saling percaya. Kita percaya begitu saja kejujuran rekan bisnis dalam menepati perjanjian, kemampuan pemerintah menjalankan pemerintahan, serta komitmen penegak hukum menegakkan kebenaran dan keadilan.

Maka, ketika demokrasi masih bertumbuh-kembang, ketika proses checks and balances kekuasaan belum sepenuhnya berjalan, kebohongan dan dusta mudah terjadi dalam kehidupan politik. Persoalannya, selain patologis secara moral, kebohongan berdimensi penguasaan. Kebohongan politik, sebagaimana juga kerahasiaan politik, dapat menjelma menjadi mode dominasi. Merujuk pada penjelasan Simmel, kelompok dominan berusaha meneguhkan superioritasnya atas kelompok lain dengan membatasi akses atas kebenaran, menciptakan sekat-sekat kerahasiaan, serta membangun wacana publik yang sama sekali tidak merujuk kepada faktualitas. Dominasi atau superioritas diteguhkan secara diskursif, melalui media massa, dengan mengabaikan prinsip dasar komunikasi: faktualitas, kejujuran, keseta raan, resiprositas. Contoh paling nyata di sini adalah kebohongan Amerika Serikat tentang senjata pemusnah massal, yang dijadikan alasan untuk menginvasi Irak dan menumbangkan rezim Saddam Hussein.

Mengapa kebohongan politik begitu dominan di Indonesia? Salah satu penjelasannya adalah kita sebagai bangsa telah terjangkiti amnesia sejarah: mudah melupakan dan memaafkan, termasuk terhadap perkara yang tak layak dilupakan dan dimaafkan. Bangsa kita punya persoalan serius dengan ingatan kolektif atas masa lalu. Hal-hal yang telah berlalu sering dianggap tak relevan untuk dipersoalkan, meskipun kebenaran belum terungkap dan pengungkapan kebenaran ini mutlak untuk memberi keadilan bagi pihak-pihak. Kekerasan pasca-1965, pelanggaran hak asasi manusia selama Orde Baru, berbagai skandal korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, semuanya dalam bahaya pelupaan. Pemerintah tidak serius menegakkan kebenaran. Masyarakat sipil, media massa, dan kalangan intelektual juga tidak mempunyai cukup energi untuk menahan arus pelupaan sejarah yang terjadi.

Begitu Sri Mulyani lengser dari jabatan Menteri Keuangan, selesailah episode drama Bank Century. Benarkah telah terjadi penyalahgunaan kekuasaan dan misalokasi dana publik sebesar Rp 6,5 triliun, hal ini tetap saja menjadi misteri. Melacak kebenaran kasus ini seakan-akan tidak relevan lagi karena tujuan politik yang sesungguhnya telah tercapai.”Damai itu indah”, begitu kata para politikus yang sebelumnya bertikai. Yang tak kalah mencengangkan, beberapa pemimpin daerah yang tersangkut kasus korupsi malah menang lagi dalam pilkada langsung. Di tengah impitan kesulitan ekonomi, masyarakat semakin tak mau tahu akan masa lalu dan rekam jejak seseorang yang akan menjadi pemimpin mereka.

Ingatan kolektif akan masa lalu adalah sebuah imperatif. Bukan hanya agar kesalahan masa lalu tidak terulang, tetapi terutama karena ingatan kolektif merupakan jalan menuju pembebasan sejarah dan sarana emansipatoris. Masih adakah ruang untuk pesan Theodor W. Adorno ini dalam moralitas dan kesadaran kita sebagai bangsa? ●

Agus Sudibyo, Wakil Direktur Yayasan SET Jakarta


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: